“Tentunya kita harus mempunyai competitive advantage yang dapat menarik mereka untuk supaya berinvestasi di Delta Mas,” kata Tondy.
Hingga semester I-2025, DMAS membukukan prapenjualan Rp580 miliar atau 32% dari target Rp1,81 triliun. Perseroan mengakui kinerja masih tertahan akibat adanya backlog penjualan.
Beberapa tenant telah melakukan pembelian, namun pengakuan penjualan baru bisa dicatat setelah Akta Jual Beli (AJB) rampung, lahan diserahkan, dan pembayaran lunas.
Meski demikian, manajemen tetap optimistis target 2025 bisa tercapai dengan mengandalkan permintaan lahan industri yang mencapai sekitar 75 hektare. Dari jumlah itu, lebih dari separuhnya berasal dari sektor data center yang saat ini menjadi kontributor terbesar pemasaran.
Selain mengandalkan penjualan lahan, DMAS juga mengandalkan pendapatan berulang (recurring income) yang setiap tahun ditargetkan tumbuh 10–15%. Pada 2025, recurring income diproyeksikan mendekati Rp300 miliar.
“Recurring income ini merupakan hal yang sangat penting, dan strateginya akan terus kita tingkatkan supaya setiap tahun meningkat minimal 10–15%,” jelas Tondy.
DMAS juga menyiapkan infrastruktur pendukung untuk meningkatkan daya saing. Perseroan telah mengoperasikan Security, Fire, and Command Center (SFCC) untuk pengendalian keamanan dan keadaan darurat, Water Treatment Plant (WTP) Recycle internal untuk mendukung target Net Zero Emission 2060, serta Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) berbasis teknologi Refuse Derived Fuel (RDF).
Adapun cadangan lahan DMAS saat ini mencapai 642 hektare, terdiri dari sektor industri seluas 119 hektare, sektor komersial 358 hektare, dan sektor hunian 165 hektare.
Dengan ketersediaan lahan tersebut, perusahaan memperkirakan kapasitas pemanfaatan bisa berlangsung hingga 3–5 tahun ke depan dengan kecepatan penjualan sekitar 50–60 hektare per tahun.
(dhf)




























