“Iya, yang di PT Smelting itu berhenti produksi. Berhenti dulu sementara. Enggak ada downtime karena maintenance dan juga ada masalah di oksigen sehingga berhenti. Akan tetapi, sudah dalam proses perbaikan dan mudah-mudahan minggu pertama September sudah bisa berproduksi,” tegas dia.
Untuk diketahui, Freeport-McMoRan Inc. melepas volume bijih tembaga yang jauh lebih besar dari perkiraan setelah terjadi gangguan di salah satu pabrik miliknya di Indonesia, memberi jeda sementara bagi smelter yang tengah menghadapi tekanan pasokan historis.
Mengutip Bloomberg News, langkah penambang asal AS itu menyusul insiden di fasilitas oksigen milik PT Smelting, menurut sumber yang mengetahui langsung masalah tersebut.
Gangguan itu memperpanjang perawatan terjadwal selama 4 minggu di pabrik yang mendapat pasokan dari tambang tembaga-emas andalan Freeport di Grasberg.
Penutupan tersebut melepas hingga 100.000 ton bijih tembaga setengah jadi atau konsentrat dari Grasberg, kata sumber yang menolak disebutkan namanya karena alasan komersial.
Freeport berupaya mengirim kargo tersebut secepat mungkin dengan memanfaatkan izin ekspor jangka pendek yang berakhir pertengahan September, tambah mereka.
Adapun, Freeport diizinkan untuk melanjutkan ekspor konsentrat tembaga pada 2025, setelah perseroan menghadapi keadaan kahar akibat smelter katodanya di Manyar, Gresik, Jawa Timur terbakar pada 14 Oktober 2024.
Izin ekspor konsentrat tembaga Freeport diberikan selama enam bulan yakni sejak 17 Maret 2025 hingga 16 September 2025, atau tersisa kurang dari satu bulan lagi.
Dalam kesempatan yang sama, Tony menegaskan bahwa peningkatan kapasitas produksi smelter tembaganya di Manyar, Gresik, Jawa Timur berjalan sesuai target. Saat ini, menurutnya smelter tersebut telah bisa beroperasi mendekati 70% dari kapasitas produksi maksimum.
“Karena ramp up produksi kita sudah sesuai dengan kurva sebelumnya yang kita sampaikan kepada pemerintah Itu mulai dengan 40%, 50%, 60 %dan sekarang mendekati 70%,” tegas dia.
Terkait dengan itu, Tony mengungkapkan bahwa kepastian berlanjut atau tidaknya izin ekspor konsentrat tembaga perusahaan masih menunggu evaluasi yang akan dilakukan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Tony menjelaskan, berdasarkan aturan yang berlaku bahwa evaluasi relaksasi ekspor konsentrat tembaga tersebut akan dievaluasi menjelang izin ekspor berakhir yakni sebelum 16 September 2025.
“Jadi sesuai dengan Kepmen [Keputusan Menteri] memang akan dievaluasi pada saat mau berakhirnya. Itu yang kita tunggu hasil evaluasi dari pemerintah,” kata Tony ditemui awak media, di Jakarta Selatan, Rabu (27/8/2025).
Adapun, hingga pertengahan Agustus 2025 Freeport baru mengekspor sekitar 65% dari total kuota ekspor sebesar 1,4 juta ton basah atau wet metric ton (wmt) atau sekitar 0,91 juta wmt.
Tony menargetkan korporasi bisa mengekspor sekitar 90% dari kuota ekspor sebelum tenggat izin berakhir pada 16 September 2025.
Saat ini, klaim dia, sudah banyak kapal-kapal pengangkut bijih tembaga yang mengantre untuk mengangkut konsentrasi ke luar negeri.
“Mudah-mudahan cuacanya bagus sehingga loadingnya lancar untuk kemudian diekspor. Jadi harapannya di 16 September bisa tercapai kira-kira 90%,” tegas dia.
(azr/wdh)































