Nyaris keseluruhan saham membukukan pelemahan. Paling dalam adalah saham–saham barang baku, saham properti, dan saham keuangan dengan terpeleset mencapai 1,43%, 1,38%, dan 0,69%. Menyusul saham konsumen primer dan saham konsumen non primer yang masing–masing melemah 0,6% dan 0,56%.
Tidak hanya IHSG, Bursa saham utama Asia juga terbenam di zona merah. PSEi (Filipina) jadi yang paling parah dengan ambles 2,17%.
Bursa Saham Asia lain juga kompak menapaki jalur merah, menyusul KLCI (Malaysia), Hang Seng (Hong Kong), TOPIX (Jepang), SENSEX (India), NIKKEI 225 (Tokyo), KOSPI (Korea Selatan), SETI (Thailand), Shanghai Composite (China), CSI 300 (China), dan Straits Time (Singapura) yang melemah amat signifikan dengan masing–masing terpangkas 1,3%, 1,18%, 1,08%, 1,06%, 0,97%, 0,95%, 0,9%, 0,39%, 0,37%, dan 0,3%.
Sementara itu, Ho Chi Minh Stock Index (Vietnam), dan Shenzhen Comp (China) berhasil rebound dan menguat dengan kenaikan 3,32%, dan 0,18%.
IHSG dan Bursa Saham Asia tersengat momentum pelemahan di Bursa Saham Amerika Serikat (AS). Dini hari tadi waktu Indonesia, tiga indeks utama di Wall Street kompak ditutup melemah. Dow Jones Industrial Average, S&P 500, dan Nasdaq Composite masing–masing ambles mencapai 0,77%, 0,43%, dan 0,22%.
Sentimen yang memengaruhi laju Bursa Asia hari ini datang dari global, euforia terkait pemangkasan suku bunga Bank Sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) mereda hanya beberapa hari sebelum rilis data inflasi penting.
Selain pejabat yang tetap terbelah, tercermin dari risalah FOMC, para trader juga bersiap menghadapi data harga yang kemungkinan kurang bersahabat pada pekan ini.
Pembuat kebijakan tengah bergulat dengan inflasi yang masih berada di atas target Bank Sentral 2% — dan terus meningkat — serta pasar tenaga kerja yang terus memperlihatkan tanda–tanda pelemahan. Realitas yang menggelisahkan ini, yang menarik arah kebijakan ke dua sisi bertentangan, makin diperburuk oleh tingkat ketidakpastian yang tinggi mengenai bagaimana kedua faktor tersebut akan berkembang dalam beberapa bulan mendatang.
“Biarpun kami masih melihat The Fed memangkas suku bunga pada September, sekarang kami harus mencari tahu apakah itu akan menjadi ‘pemangkasan dovish’ atau ‘pemangkasan hawkish’,” kata Andrew Brenner dari NatAlliance Securities, seperti yang diwartakan Bloomberg News.
Arah ke depan yang pasti, khususnya laju pemangkasan suku bunga acuan, masih menjadi bahan perdebatan karena para pejabat The Fed memiliki pandangan yang berbeda tentang potensi dampak tarif dan kondisi ekonomi secara keseluruhan, menurut Jason Pride dan Michael Reynolds dari Glenmede.
Investor juga akan memantau pernyataan terbaru dari para pembuat kebijakan AS dalam acara komunitas minggu ini untuk mengukur kesiapan mereka terhadap pemangkasan suku bunga pada September, dengan Gubernur The Fed Christopher Waller diagendakan berbicara pada Kamis.
(fad)




























