Logo Bloomberg Technoz

Menurut dia, fasilitas smelter yang dapat mengolah kobalt tersebut memerlukan teknologi canggih dan investasi yang besar. Dalam kaitan itu, dia menyatakan permintaan kobalt dari AS utamanya untuk industri pertahanan umumnya berupa kobalt sulfat atau kobalt oksida.

“Ini tidak bisa dilakukan tanpa kerja sama dari investor asing, terutama dari AS atau negara-negara lain dengan teknologi pemrosesan yang maju,” ungkap dia.

Selain itu, Wahyu juga mendorong pemberian insentif untuk pengembangan industri hilir kobalt dan kepastian regulasi agar produk ‘sisaan’ nikel tersebut bisa memiliki nilai tambah lebih.

Dia juga menilai negara-negara maju seperti AS memiliki standar yang ketat terkait asal muasal komoditas yang masuk ke negaranya. Dalam kaitan itu, aspek keberlanjutan lingkungan dan tata kelola yang baik kerap menjadi perhatian.

“Secara keseluruhan, meskipun ada peluang, Indonesia harus menghadapi tantangan besar untuk benar-benar mengisi kekosongan pasokan yang ditinggalkan oleh Kongo,” ucap dia.

“Hal ini tidak hanya tentang ketersediaan bahan mentah, tetapi lebih kepada kemampuan untuk mengubahnya menjadi produk yang diinginkan oleh pasar AS,” tutupnya.

Nikel sulfat (kiri), kobalt sulfat (tengah), dan mangan sulfat./Bloomberg- SeongJoon Cho

Dua Smelter

Anggota dewan Penasehat Pertambangan Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) Djoko Widajatno sebelumnya menyatakan saat ini baru terdapat dua smelter yang sudah bisa mengolah kobalt bawaan bijih nikel.

Kobalt terdapat dalam kandungan produk dari smelter penghasil nickel matte dan smelter hidrometalurgi atau berbasis teknologi high pressure acid leach (HPAL) penghasil mixed hydroxide precipitate (MHP).

“Baru ada dua refinery di Indonesia yang sudah beroperasi memisahkan Co [kobalt] dan Ni [nikel] menjadi kobalt sulfat dan nikel sulfat; di di IWIP milik Huayou dan Obi milik Harita,” kata Djoko saat dihubungi, beberapa waktu lalu.

Djoko menjelaskan nikel sulfat dan kobalt sulfat diproduksi lebih lanjut untuk menjadi baterai prekursor di smelter milik Huayou yang berada di kawasan Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP), Maluku Utara.

Sementara itu, kobalt sulfat dan nikel sulfat yang diproduksi PT Trimegah Bangun Persada Tbk. (NCKL) atau Harita Nickel diekspor ke China dan lainnya.

Akan tetapi, Djoko tidak mengetahui pasti jumlah volume kobalt sulfat yang dieskpor keduanya.

Sekadar catatan, Indonesia merupakan produsen kobalt kedua terbesar di dunia setelah Kongo. Per 2024, produksi kobalt RI ditaksir mencapai 28.000 metrik ton atau naik dari 19.000 metrik ton pada 2023, menurut data United States Geological Survey (USGS).

Adapun, Indonesia memiliki cadangan kobalt sebanyak 500.000 ton.

Untuk diketahui, Departemen Pertahanan Amerika Serikat (DLA) berupaya membeli kobalt demi cadangan strategisnya untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade, langkah terbaru untuk memperkuat pasokan logam-logam penting dalam negeri.

DLA sedang mencari penawaran hingga 7.500 ton kobalt selama lima tahun ke depan dalam kontrak senilai hingga US$500 juta (sekitar US$8,16 triliun), menurut dokumen tender yang diterbitkan pekan ini.

Paduan berbasis kobalt digunakan dalam amunisi dan mesin jet, sementara logam ini juga penting untuk membuat magnet yang digunakan pada flap, roda pendaratan, dan permukaan kendali penerbangan pada pesawat terbang.

Kobalt telah melonjak 42% tahun ini setelah pemerintah Republik Demokratik Kongo memberlakukan larangan ekspor untuk menopang harga. 

Kobalt sebagai logam baterai diperdagangkan di harga US$33.335/ton, tak mengalami perubahan dibandingkan penutupan sebelumnya di London Metal Exchange (LME) Jumat petang. Secara historis, harga kobalt mencapai rekor tertinggi sepanjang masa di level US$95.250 pada Maret 2018.

(azr/wdh)

No more pages