Logo Bloomberg Technoz

Perbedaan bentuk dan aroma tidak menjadikan vape lebih sehat, justru menimbulkan ilusi keamanan bagi penggunanya.

Kandungan Nikotin: Zat Adiktif yang Mengikat

Produk vape di sebuah toko di Manchaster, Inggris./Bloomberg

Nikotin tetap menjadi kandungan utama pada liquid vape. Dosisnya bervariasi antar produk, namun ada yang mencapai kadar setara dengan rokok biasa. Nikotin dikenal sebagai zat adiktif yang menyebabkan penggunanya sulit berhenti.

Lebih dari itu, nikotin berdampak buruk bagi perkembangan otak remaja di bawah usia 25 tahun. Pada fase tersebut, otak sedang aktif membangun sinapsis baru.

Konsumsi nikotin mengganggu proses ini dan berisiko memicu ketergantungan pada zat lain di kemudian hari.

Bagi ibu hamil, nikotin membawa bahaya ganda. Paparan zat ini dapat menyebabkan kelahiran prematur hingga berat badan bayi rendah. Dengan kata lain, vape bukanlah pilihan aman bagi siapa pun, termasuk ibu hamil.

VOC: Senyawa Organik yang Mudah Menguap

Selain nikotin, liquid vape mengandung volatile organic compounds (VOC). Salah satu yang paling umum adalah propilen glikol, senyawa yang juga digunakan dalam industri makanan dan bahan kimia.

Propilen glikol dalam vape menghasilkan efek asap yang khas. Namun, jika terhirup berlebihan, zat ini dapat mengiritasi mata, hidung, dan tenggorokan.

Paparan VOC jangka panjang bahkan bisa mengganggu fungsi hati, ginjal, hingga sistem saraf.

Gejala umum akibat paparan VOC meliputi sakit kepala, mual, dan gangguan pernapasan. Fakta ini membuktikan bahwa uap vape bukanlah sekadar kabut yang tidak berbahaya.

Gliserin: Manis di Mulut, Bahaya di Paru

Vegetable glycerin atau gliserin memang berasal dari bahan nabati. Zat ini lazim digunakan dalam makanan maupun obat-obatan.

Dalam vape, gliserin berfungsi untuk menghasilkan asap yang lebih tebal dan pekat.

Meskipun dianggap lebih aman dibanding propilen glikol, gliserin tetap berisiko mengiritasi sistem pernapasan.

Laporan National Academies Press menunjukkan bahwa pengguna vape dapat mengalami batuk, sesak, hingga iritasi paru akibat paparan zat ini.

Bahan Perasa: Dari Aroma Manis ke Penyakit Paru

Ilustrasi vape (Sumber: Bloomberg)

Salah satu daya tarik utama vape adalah keberagaman rasa yang ditawarkan. Tercatat lebih dari 7.000 varian rasa telah diproduksi. Namun, banyak di antaranya menggunakan bahan kimia berbahaya seperti diacetyl dan acetylpropionyl.

Penelitian menemukan bahwa kedua zat ini dapat memicu penyakit paru serius bernama bronchiolitis obliterans atau lebih dikenal dengan istilah “paru-paru popcorn.”

Kondisi ini terjadi ketika saluran udara kecil mengalami penyempitan akibat jaringan luka.

Fenomena ini menunjukkan bahwa rasa manis dan aroma sedap dari vape sesungguhnya menyembunyikan risiko kesehatan yang mematikan.

Senyawa Karbon: Pemicu Kanker

Uap vape juga mengandung senyawa karbon berbahaya, antara lain formaldehyde, acetaldehyde, acrolein, dan glycidol.

International Agency for Research on Cancer (IARC) telah menggolongkan beberapa zat tersebut sebagai karsinogen atau penyebab kanker.

Selain meningkatkan risiko kanker, senyawa karbon juga berpotensi merusak sistem pencernaan, kulit, serta organ pernapasan.

Formaldehyde, misalnya, diketahui dapat menimbulkan iritasi pada paru dan menurunkan kapasitas pernapasan dalam jangka panjang.

Acrolein: Herbisida di Dalam Asap Vape

Acrolein, zat kimia yang biasa digunakan sebagai herbisida pembunuh gulma, juga ditemukan dalam cairan vape. Inhalasi zat ini bisa menyebabkan kerusakan paru-paru yang bersifat permanen.

Paparan acrolein yang berulang dapat menimbulkan peradangan kronis dan menghambat kemampuan paru untuk memulihkan diri. Bahayanya, kerusakan ini tidak dapat diperbaiki meski seseorang berhenti menggunakan vape.

Logam Berat: Racun dari Perangkat Vape

Penelitian menunjukkan bahwa logam berat seperti nikel, timah, kadmium, dan kromium hadir dalam uap vape. Logam ini diyakini berasal dari komponen perangkat yang ikut terpanaskan saat digunakan.

Nikel dan kromium dikenal sebagai zat pemicu kanker paru. Selain itu, nikel juga dapat memicu reaksi alergi pada sebagian orang. Sementara kadmium memiliki efek merusak ginjal dan tulang.

Paparan logam berat dalam jangka panjang bukan hanya membahayakan paru-paru, tetapi juga sistem kekebalan tubuh.

Ilusi Keamanan yang Menjerat Generasi Muda

Vape sering dipromosikan sebagai pilihan yang lebih modern dan “aman” dibanding rokok tembakau. Padahal, anggapan ini justru membuat banyak remaja terjerumus pada kecanduan nikotin sejak dini.

Dengan aroma dan rasa yang bervariasi, vape menciptakan daya tarik tersendiri bagi kalangan muda. Tanpa disadari, kebiasaan ini mengikat mereka pada zat adiktif yang berpotensi merusak otak dan tubuh dalam jangka panjang.

Jalan Keluar: Berhenti Merokok Sekarang Juga

Bahaya Rokok Elektrik (Vape) Mengintai (Sumber: Bloomberg)

Bahaya vape jelas tidak kalah serius dibanding rokok tembakau. Oleh karena itu, langkah terbaik adalah berhenti sejak dini, sebelum kecanduan semakin parah.

Tersedia berbagai metode untuk berhenti merokok, baik secara alami maupun dengan bantuan terapi medis. Salah satunya adalah terapi pengganti nikotin yang dapat membantu mengurangi gejala putus nikotin.

Selain itu, dukungan keluarga dan lingkungan juga berperan penting dalam keberhasilan seseorang meninggalkan kebiasaan merokok maupun vaping.

Vape bukanlah solusi aman bagi perokok. Di balik asap yang tampak modern dan beraroma manis, terdapat racun yang membahayakan paru-paru, otak, hingga organ vital lainnya.

Mulai dari nikotin, VOC, gliserin, bahan perasa kimia, senyawa karbon, acrolein, hingga logam berat—semua kandungan ini menegaskan bahwa liquid vape sama berisikonya dengan rokok tembakau.

Kini, pilihan ada di tangan Anda. Apakah akan terus menghirup racun dalam bentuk asap elektrik, atau berani mengambil langkah untuk hidup lebih sehat tanpa rokok?

(seo)

No more pages