Logo Bloomberg Technoz

Hal itu mengisyaratkan ada potensi pelemahan rupiah spot hari ini meski mungkin terbatas, karena sentimen pasar yang berbalik kurang mendukung aset emerging market

Pada perdagangan valuta Asia pagi ini, beberapa mata uang memang tertekan seperti baht, ringgit dan dolar Hong Kong. Namun, sebagian lagi masih berhasil menguat di zona hijau seperti yen, dolar Singapura serta yuan offshore.

Inflasi AS

Data menunjukkan inflasi indeks harga produsen Amerika pada Juli naik tercepat dalam tiga tahun, mengindikasikan perusahaan mulai membebankan kenaikan biaya impor akibat tarif ke konsumen.

Menurut laporan Biro Statistik Tenaga Kerja (BLS) yang dirilis Kamis (14/8/2025), indeks PPI naik 0,9% dari bulan sebelumnya, kenaikan terbesar sejak inflasi konsumen mencapai puncaknya pada Juni 2022. PPI naik 3,3% dibandingkan tahun sebelumnya.

Biaya jasa meningkat 1,1% bulan lalu—tertinggi sejak Maret 2022. Di sektor jasa, margin di kalangan grosir dan ritel melonjak 2%, dipimpin oleh penjualan grosir mesin dan peralatan. Harga barang, tidak termasuk makanan dan energi, naik 0,4%.

Laporan ini menunjukkan perusahaan menyesuaikan harga barang dan jasa untuk membantu mengimbangi biaya terkait tarif impor AS yang lebih tinggi, meski permintaan melemah pada paruh pertama tahun ini.

Sementara sebelumnya data inflasi harga konsumen (CPI) awal pekan ini menunjukkan tekanan harga yang lebih ringan pada Juli.

Ditambah dengan pasar tenaga kerja yang mulai melambat, pelaku pasar memperkirakan The Fed akan memangkas suku bunga bulan depan. Namun, lonjakan inflasi produsen membuat sebagian pejabat bank sentral berhati-hati terhadap risiko kebangkitan inflasi.

“Pasar seharusnya tidak begitu saja berasumsi bahwa suku bunga akan dipangkas besar-besaran, karena masalah inflasi di AS masih ada,” kata Kyle Rodda, analis pasar senior Capital.com di Melbourne, dilansir dari Bloomberg News.

Imbal hasil obligasi AS tenor dua tahun naik enam basis poin menjadi 3,73%, dengan peluang pemangkasan suku bunga pada September turun menjadi sekitar 90% dari sebelumnya hampir pasti, menurut data swap. 

Pernyataan terbaru pejabat The Fed juga mungkin akan membuat pasar berhitung ulang. 

Gubernur Federal Reserve Bank of St. Louis, Alberto Musalem, menyatakan masih terlalu dini baginya untuk memutuskan apakah akan mendukung penurunan suku bunga pada pertemuan bulan depan.

“Bagi saya, terlalu dini untuk mengatakan secara pasti kebijakan apa yang akan saya dukung pada pertemuan September,” ujar Musalem dalam wawancara dengan CNBC, Kamis (14/8).

Lanskap itu kemungkinan juga akan berdampak pada langkah investor di pasar surat utang domestik hari ini. Setelah kemarin harga SUN mencetak reli di tengah penguatan rupiah, ada potensi pergerakan imbal hasil SUN hari ini akan mengekor pasar global, dengan koreksi.

(rui)

No more pages