Logo Bloomberg Technoz

Kenaikan yield UST itu menahan selisih imbal hasil investasi dengan surat utang RI di kisaran 225 basis poin saat ini. Lelang sukuk negara (SBSN) yang dilangsungkan kemarin masih disambut hangat pasar di tengah sentimen positif yang berlangsung sejak awal pekan memicu reli harga obligasi domestik.

Perkembangan pasar global itu, didukung dolar AS yang masih melemah, memberi ruang penguatan bagi mata uang Asia pagi ini. Ringgit, baht, yen, dolar Singapura menguat. Sedang won, yuan offshore dan dolar Hong Kong melemah.

Di pasar offshore, rupiah Nondeliverable Forward (NDF) diperdagangkan di kisaran Rp16.386/US$, setelah tadi malam ditutup melemah tipis 0,1% di bursa New York.

Level pergerakan rupiah offshore sedikit berjarak dengan posisi penutupan rupiah spot kemarin di Rp16.381/US$, mengisyaratkan gerak rupiah masih berisiko tertekan dalam kisaran sempit hari ini.

Bila pelemahan dolar AS berlanjut dan memperluas penguatan mata uang regional, rupiah bisa turut diuntungkan.

Dalam penutupan perdagangan kemarin, rupiah hanya ditutup menguat tipis 0,03% pasca rilis data pertumbuhan ekonomi RI.

Investor asing mencetak net buy di pasar saham dalam perdagangan kemarin senilai Rp1,56 triliun terungkit sentimen data PDB Indonesia yang melampaui ekspektasi.

Sedangkan di pasar surat utang, data terakhir per 4 Agustus menunjukkan, asing membukukan net sell senilai US$ 118,5 juta, sekitar Rp1,94 triliun.

Data ekonomi RI

Hari ini, Bank Indonesia akan merilis laporan terbaru Survei Harga Properti Residensial RI kuartal II-2025, ketika para pelaku pasar domestik masih mencerna data pertumbuhan ekonomi yang mengejutkan dan sebagian mempertanyakan keabsahannya.

Ekonom Segara Research Institute Piter Abdullah menilai angka pertumbuhan ekonomi kuartal II perlu dikaji lebih dalam karena tidak sejalan dengan sejumlah indikator utama lain yang justru menunjukkan pelemahan.

“Pertumbuhan ekonomi kita secara angka memang lebih tinggi dari konsensus, tapi ketika melihat indikator seperti konsumsi rumah tangga yang melambat, penerimaan pajak terutama PPN yang menurun, dan indeks PMI yang juga melemah, hasil pertumbuhan ini agak membingungkan,” ujarnya kepada media, Selasa (5/8/2025).

Kenaikan tajam Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau investasi fisik, yang disebut sebagai pendorong utama pertumbuhan, juga menuai tanda tanya. Ekonom Segara menilai, lonjakan PMTB hingga 6,6% secara tahunan sulit dijelaskan jika dikaitkan dengan pelemahan persepsi pelaku usaha yang tergambar dari penurunan Purchasing Managers’ Index (PMI).

“PMI itu kan cerminan dari ekspektasi pelaku usaha ke depan. Ketika mereka pesimis, logikanya mereka akan menahan ekspansi. Tapi di data BPS justru PMTB melonjak, ini jadi janggal,” tambahnya.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2025 tercatat mencapai 5,12% year-on-year, melampaui ekspektasi pasar yang memperkirakan akan terjadi perlambatan dengan laju hanya 4,80%. Capaian kuartal II itu juga menjadi yang tertinggi sejak 2021.

Capaian kinerja pertumbuhan itu memang mengejutkan karena data-data yang dirilis sebelumnya banyak memberikan indikasi kelesuan ekonomi.

Aktivitas manufaktur RI misalnya, mencatat kontraksi beruntun selama April, Mei dan Juni. Rekrutmen tenaga kerja juga menyentuh level terendah sejak 2022 berdasarkan laporan Survei Kegiatan Dunia Usaha kuartal II-2025.

Kegiatan dunia usaha pada kuartal II lalu, menurut data Bank Indonesia, juga masih lebih lesu dibanding periode yang sama tahun sebelumnya meski ada perbaikan dibanding kuartal I-2025.

Sementara dari sisi konsumen, Indeks Ekonomi Saat ini yang mengukur persepsi masyarakat terhadap kondisi ekonomi Indonesia sekarang dibanding enam bulan lalu, jatuh ke level terendah sejak April 2022 di level 106,7, seperti laporan Survei Konsumen bulan Juni oleh Bank Indonesia.

Begitu juga Indeks Ekspektasi Ekonomi juga jatuh ke level terendah sejak Desember 2022, pada Juni lalu. Sementara Indeks Keyakinan Konsumen juga sempat jatuh ke level terendah sejak September 2022 pada Mei, sebelum akhirnya naik sedikit pada Juni.

Analisis teknikal

Analisis Teknikal Nilai Rupiah Rabu 6 Agustus 2025 (Riset Bloomberg Technoz)

Secara teknikal, rupiah berpotensi menguat pada perdagangan hari ini menuju Rp16.350/US$ sampai dengan Rp16.310/US$.

Level selanjutnya bisa menguat ke Rp16.300/US$ dengan keberhasilan breakout resistance dari posisi sebelumnya.

Adapun dalam tren jangka pendek, rupiah mulai membentuk tren pembalikan arah dengan potensi rebound terus berlanjut, apabila tertembus trendline channel kuat, makin berpeluang menguat ke Rp16.250/US$ yang tercermin dari time frame daily.

Apabila rupiah memberikan tanda-tanda melemah nantinya, support terdekat dapat menuju Rp16.400/US$, sementara kisaran gerak rupiah dalam support ada di antara Rp16.450/US$ sampai dengan Rp16.500/US$

-- dengan bantuan laporan Recha Tiara Darmawan.

(rui)

No more pages