"Artinya daya beli ataupun masyarakat di tengah ketidakpastian global masih melakukan konsumsi secara kuat. Dan angka ini ditunjukkan oleh angka inflasi," tutur Airlangga.
Jadi Perhitungan PDB
BPS sendiri sebelumnya resmi mengumumkan pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang kuartal 2 tahun ini mencapai 5,12%, jauh melebihi ekspektasi sejumlah kalangan ekonom yang memproyeksi tak sampai 5%.
Pertumbuhan tersebut masih ditopang oleh konsumsi rumah tangga dengan porsi 54,25%. Namun, Peningkatan konsumsi rumah tangga tersebut juga didorong oleh pertumbuhan transaksi online dari e-retail dan marketplace sebesar 7,55%.
"Jadi, ada hal baru yang mungkin belum pernah diungkap, fenomena adanya shifting dari belanja secara offline ke online," ujar Deputi Bidang Neraca dan Analisis BPS Moh. Edy Mahmud dalam konferensi pers.
Pemasukan angka transaksi di marketplace tersebut juga kini menjadi menjadi hal baru dalam pembentukan pertumbuhan ekonomi melalui PDB.
(ell)



























