Logo Bloomberg Technoz

Jika nilai rupiah terjadi penguatan hari ini, resistance menarik dicermati ada pada level di kisaran Rp16.350/US$ dan selanjutnya Rp16.310/US$ hingga Rp16.300/US$ potensial.

Pelemahan rupiah tak sendiri. Beberapa mata uang Asia juga tertekan oleh dominasi dolar AS. Peso melemah terdalam 0,79%, baht juga tertekan 0,62%, dolar Taiwan melemah 0,61%, ringgit juga turun 0,34% dan rupiah terpuruk 0,27%.

Adapun sebagian valuta Asia yang lain masih menguat dipimpin oleh yen yagn naik nilainya 0,38%, disusul dolar Singapura menguat 0,23%, lalu yuan offshore juga 0,2%, won Korea 0,09%. Kemudian yuan Tiongkok dan dolar Hong Kong juga menguat masing-masing 0,09% dan 0,01%.

Indeks dolar AS melompat hingga lebih dari 1% kemarin dan pagi ini terpantau masih berada di kisaran 99,78, tinggal sejengkal lagi kembali ke zona 100.

Ketika rupiah terkapar melemah baik di pasar spot maupun offshore NDF, tekanan juga terjadi di pasar saham.

IHSG dibuka naik tipis 0,02% dan selanjutnya dengan cepat ambrol ke zona merah dengan pelemahan 0,25% pagi ini di level 7.535. 

Adapun yield SUN menunjukkan tenor pendek diserbu, diduga sebagai bagian dari strategi defensif investor. Tenor 1Y imbal hasilnya turun 1,7 bps pagi ini seperti ditunjukkan oleh OTC Bloomberg.

Tenor 2Y turun 0,8 bps, sedangkan tenor 5Y naik tipis 0,2 bps. Adapun tenor 10Y stabil di kisaran 6,557%. Tenor 13Y naik 1,2 bps yield-nya kini di 6,784%.

Ekonomi AS

Indeks dolar AS melompat hingga lebih dari 1%, menyentuh level 100 lagi pada perdagangan kemarin ketika pasar mendapati pernyataan Gubernur The Fed Jerome Powell yang menilai kebijakan menahan suku bunga acuan akan lebih tepat dalam menghadapi ketidakpastian efek tarif. Meski DXY akhirnya ditutup 0,94% di level 99,81, itu masih merupakan level tertinggi sejak Mei silam. 

Hasil rilis data pertumbuhan AS pada kuartal II-2025 menunjukkan, ekonomi terbesar itu mencatat laju PDB 3%, berbalik positif dari data semula yang negatif 0,5% dan jauh lebih tinggi dibanding ekspektasi pasar.

Hal itu dinilai menunjukkan resiliensi perekonomian AS di tengah tekanan tarif impor universal sebesar 10% dan sejumlah tarif sektoral. Di sisi lain, data inflasi inti PCE juga tercatat naik di atas ekspektasi, sebesar 2,5%.

Data-data tersebut telah membuat para pejabat The Fed dalam FOMC kemarin memilih menahan suku bunga acuan. Sementara prospek kebijakan bunga acuan The Fed pada September nanti akan bergantung pada rilis data inflasi serta tenaga kerja AS pada Juli dan Agustus.

"Bila unemployment rate AS berkisar di 4,2% dan inflasi core PCE bulanan ada di 0,3% month-on-month dalam dua bulan berturut-turut, The Fed berpeluang menahan suku bunga sampai kuartal IV-2025 dengan skenario masih ada satu kali penurnuan bunga acuan sebesar 50 bps," jelas Lionel Priyadi, Fixed Income and Market Strategist Mega Capital Sekuritas.

(rui)

No more pages