Namun, Arab Saudi secara konsisten menegaskan kembali syarat Putra Mahkota Mohammed bin Salman bahwa pembentukan negara Palestina merdeka adalah bagian tak terpisahkan dari setiap kesepakatan normalisasi.
Krisis kemanusiaan yang sedang berlangsung di Jalur Gaza disebut menjadi hambatan besar dalam tercapainya kesepakatan tersebut. Pangeran Faisal menyebutkan, "Tidak ada kredibilitas untuk membicarakan normalisasi ketika kematian, penderitaan, dan kehancuran terus terjadi di Gaza."
Tekanan internasional terhadap pemerintah-pemerintah Barat juga semakin meningkat agar mendorong Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengambil langkah nyata dalam menangani krisis tersebut.
Trump mengatakan bahwa AS akan mengupayakan bantuan pangan baru guna mengurangi kelaparan di Gaza, bekerja sama dengan berbagai negara dan organisasi seperti Inggris dan Uni Eropa. Usulan ini ia sampaikan dalam pertemuan dengan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer di Turnberry, Skotlandia, pada Senin (28/7).
Trump, yang awal tahun ini sempat mengusulkan agar AS mengambil alih kendali atas Gaza, menyatakan bahwa ia “tidak akan mengambil posisi” terkait kenegaraan Palestina, meskipun tidak mempermasalahkan jika Starmer memiliki pandangan berbeda.
Sementara itu, Perdana Menteri Inggris menegaskan bahwa pengakuan terhadap negara Palestina hanyalah soal waktu. “Ini bukan soal apakah, tapi kapan,” ujarnya, sembari menekankan bahwa langkah tersebut harus menjadi bagian dari jalur menuju perdamaian.
(bbn)





























