Logo Bloomberg Technoz

Hampir semua valuta Asia menguat pagi ini dipimpin oleh baht dengan kenaikan 0,32%. Rupiah berada di urutan kedua dengan penguatan 0,20% bersama peso 0,17%, lalu ringgit menguat 0,12%, disusul dolar Singapura 0,09%.

Adapun dolar Taiwan menguat 0,07%, won juga naik tipis nilainya 0,05% terhadap dolar AS. Disusul yen 0,03%, juga dolar Hong Kong dan rupee yang bergerak sedikit.

Sedangkan yuan renminbi masih tertekan tipis di zona merah. Indeks dolar AS yang tadi malam ditutup menguat 0,35%, pagi ini bergerak lebih lemah di kisaran 98,44.

Pasar keuangan global semula terbebani oleh pupusnya harapan akan pemangkasan suku bunga acuan AS dalam pertemuan Federal Reserve September nanti.

Hal itu menyusul rilis data ekonomi AS yang menunjukkan ketangguhan di tengah inflasi yang diekspektasikan meningkat akibat kebijakan tarif Presiden Donald Trump. Hal itu telah mengerek pamor dolar AS.

Namun, pagi ini pembalikan arah terjadi setelah muncul pernyataan dovish dari Deputi Gubernur Federal Reserve Christopher Waller. 

Ia mengatakan bahwa suku bunga sebaiknya diturunkan bulan ini untuk mendukung pasar tenaga kerja yang mulai menunjukkan tanda-tanda pelemahan.

“Dengan inflasi yang mendekati target dan risiko kenaikan inflasi yang terbatas, kita tidak perlu menunggu pasar tenaga kerja memburuk sebelum menurunkan suku bunga acuan,” ujar Waller, dilansir dari Bloomberg News. “Menurut saya, masuk akal jika FOMC memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin dalam dua pekan mendatang.”

Melansir CME Fedwatch, suku bunga The Fed bulan Juli ini hampir pasti akan ditahan dengan probabilitas mencapai 97,4%, tertinggi sebulan terakhir. Sementara pada September, peluang penurunan Fed rate turun jadi 51,7% dari tadinya menyentuh probabilitas 65,4% pekan lalu. Federal Open Meeting Committee akan dilangsungkan pada 30 Juli nanti.

Perkembangan baru juga muncul dari tensi hubungan Powell dengan Trump. 

Gubernur The Fed Jerome Powell membalas kritik tajam dari pejabat tinggi Gedung Putih terkait proyek renovasi senilai US$2,5 miliar (sekitar Rp40 triliun) melalui sebuah surat resmi yang dirilis pada Kamis (17/7).

“Kami memandang serius tanggung jawab untuk mengelola sumber daya publik dengan baik, sambil menjalankan tugas yang diberikan oleh Kongres demi kepentingan rakyat Amerika,” tulis Powell dalam suratnya yang ditujukan kepada Russ Vought, Direktur Kantor Manajemen dan Anggaran Gedung Putih (OMB).

Surat tersebut sebagian besar memuat ulang penjelasan yang kini tersedia di laman resmi The Fed dalam bentuk halaman “Pertanyaan yang Sering Diajukan” (Frequently Asked Questions/FAQ) mengenai proyek konstruksi tersebut. Surat Powell merupakan tanggapan atas korespondensi dari Vought pada 10 Juli lalu.

Dalam surat sebelumnya, Vought menyebut proyek renovasi itu sebagai “pemborosan mewah” dan mengkritik tingginya biaya pembangunan. Ia juga meminta Powell memberikan rincian proyek dalam waktu tujuh hari kerja.

Penguatan rupiah hari ini meski di awal dibuka merah, berlangsung ketika animo beli masih menguat di pasar saham. IHSG dibuka hijau dan selanjutnya menguat 1,21% di level 7.372. 

Sementara di pasar surat utang negara, harga SUN bergerak naik ditandai dengan penurunan tingkat imbal hasil di hampir semua tenor terutama tenor pendek di bawah 10 tahun.

Melansir OTC Bloomberg, yield 2Y turun tipis 0,3 bps. Lalu tenor 5Y berubah sedikit 0,1 bps. Sedang tenor 10Y stabul di 6,588%.

(rui)

No more pages