Kendati demikian, sentimen positif itu juga diimbangi oleh data yang menunjukkan produksi baja China pada Juni anjlok 9,2% secara tahunan menjadi 83,2 juta ton — penurunan bulanan terbesar dalam 10 bulan terakhir.
Kinerja tersebut membuat total produksi sepanjang paruh pertama tahun ini menjadi yang terlemah sejak 2020.
“Harga bijih besi merespons positif terhadap kabar reformasi sisi suplai, bersamaan dengan ekspektasi permintaan dari sektor properti China,” ujar analis Commonwealth Bank of Australia, Vivek Dhar, dalam catatannya.
Meski begitu, dia menambahkan masih ada pertanyaan besar soal apakah penurunan output baja China akan berlanjut hingga akhir tahun, dan bagaimana arah kebijakan produksi akan berinteraksi dengan kemungkinan stimulus lanjutan.
Pada pukul 10:33 pagi waktu Singapura, harga bijih besi naik 0,5% menjadi US$100,40 per ton. Di bursa Dalian, kontrak berjangka naik 0,8%, sementara kontrak baja di Shanghai juga mencatat kenaikan.
(bbn)































