Logo Bloomberg Technoz

Di Asia pagi ini, mayoritas valuta bergerak di zona merah, seperti yen, dolar Singapura, yuan offshore, ringgit serta dolar Hong Kong. Hanya baht, won dan renminbi China yang masih menguat terbatas di zona hijau.

Pasar keuangan global masih dibayangi berbagai isu utama di antaranya adalah menguatnya spekulasi penggusuran Gubernur Federal Reserve Jerome Powell oleh Presiden AS Donald Trump. Mata uang emerging market cenderung tertekan oleh isu tersebut sejak kemarin.

Meski belakangan Trump membantah hal tersebut, akan tetapi pasar sudah cenderung waspada seperti terlihat di pasar surat utang AS, US Treasury. Kurva yield Treasury terlihat makin curam. Pagi ini, hampir semua tenor Treasury terpangkas yield-nya. 

Banyak analis memperingatkan bahwa jika Trump benar-benar memecat Powell, pasar keuangan bisa terguncang dan memicu konflik hukum serius mengenai independensi bank sentral. Meski demikian, reaksi pasar pada Rabu kemarin masih relatif tenang.

Saat rumor pemecatan mulai beredar, saham, dolar, dan imbal hasil obligasi jangka pendek sempat turun, meski tidak terjadi pergerakan drastis.

"Pasar tidak terlalu terguncang sebelum Trump membantah laporan tersebut," tulis Derek Tang, ekonom dari LH Meyer/Monetary Policy Analytics di Washington, dalam catatan kepada klien, dilansir dari Bloomberg News

"Jika ini semacam uji coba untuk membaca reaksi pasar, maka bisa dibilang sukses dan mungkin akan membuat Trump makin berani. Kini batasan apa yang dapat diterima sudah bergeser, ke arah yang kurang baik," tambah Tang.

Sedangkan dari dalam negeri, pasar mungkin masih akan diliputi euforia pemangkasan suku bunga acuan, BI rate, yang disertai sinyal dovish dari Dewan Gubernur Bank Indonesia terkait peluang penurunan suku bunga lebih lanjut ke depan.

"BI memperluas alasan penurunan suku bunga di luar faktor rupiah dan telah membuka peluang penurunan bunga acuan lebih besar. BI juga mengindikasikan akan berusaha sekuat tenaga untuk mendukung pertumbuhan ekonomi. Kami perkirakan akan ada penurunan BI rate sebesar 25-50 bps lagi di semester dua tahun ini," kata Tamara Mast Henderson, Ekonom Bloomberg Economics.

Sinyal dovish itu mungkin bisa menarik dana masuk menyerbu saham-saham bank yang menjadi penopang indeks. Juga bergerak menyerbu surat utang negara. Bila asing turut masuk, rupiah bisa diuntungkan.

Modal asing masih mencetak net sell di pasar saham pada perdagangan Rabu kemarin, senilai US$ 67 juta, sekitar Rp1,09 triliun. Sepekan ini (week-to-date), asing membukukan posisi jual bersih saham RI senilai Rp2,55 triliun.

Sementara di pasar surat utang negara, sampai data 15 Juli, asing membukukan net sell sebesar Rp1,01 triliun week-to-date. Namun, selama Juli, asing masih net buy SBN sebesar Rp14,42 triliun.

Analisis teknikal

Secara teknikal nilai rupiah berpotensi kembali melanjutkan tren pelemahan, mencermati sejumlah sentimen yang menekan, dengan target melemah menuju level Rp16.300/US$ yang menjadi level support pertama. Pelemahan kedua akan tertahan di Rp16.310/US$.

Apabila kembali break kedua support tersebut dengan pesimistis, rupiah berpotensi melemah makin dalam menuju level Rp16.350/US$ sebagai support potensial hingga Rp16.400/US$.

Namun demikian, jika nilai rupiah terjadi penguatan hari ini, resistance menarik dicermati ada di kisaran Rp16.250/US$ dan selanjutnya Rp16.200/US$ hingga Rp16.100/US$ sebagai resistance psikologis.

Analisis Teknikal Nilai Rupiah Kamis 17 Juli 2025 (Riset Bloomberg Technoz)

Dampak deal tarif

Namun, dampak kesepakatan dagang RI dengan AS juga masih akan jadi perhatian, terutama efek terhadap fundamental rupiah ke depan di tengah kemungkinan neraca dagang berbalik jadi defisit.

Optimisme dari Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo bahwa tercapainya kesepakatan itu setidaknya memberikan kepastian baru bagi para investor, mungkin akan memberikan kepercayaan diri jangka pendek bagi pasar.

Namun, hitungan dampak terhadap neraca dagang RI ke depan tidak bisa diremehkan dengan ekspor ke AS mugkin terganggu sementara impor akan membanjir.

Analisis dari Mega Capital Sekuritas yang dilansir kemarin mendapati, kesepakatan dagang tersebut termasuk tarif 19% ke AS ketika impor dari Amerika nol tarif, ditambah komitmen pembelian komoditas pertanian, energi bahkan pesawat terbang, berpotensi membalik posisi neraca dagang RI dengan AS dari kondisi surplus menjadi defisit.

Tanpa diimbangi surplus dagang dengan mitra yang lain, efeknya bisa menjalar ke neraca dagang keseluruhan mengingat posisi AS sebagai penyumbang surplus yang cukup besar.

"Jika angka-angka [komitmen belanja ke AS] ditambahkan ke angka tahun 2024, maka surplus perdagangan RI terhadap AS sebesar US$ 14,36 miliar akan berubah jadi defisit kecil sebesar US$ 180 juta," kata tim analis Mega Capital di antaranya Lionel Priyadi, Muhammad Haikal dan Nanda Rahmawati, dalam catatannya kepada klien.

Sedangkan dampak yang bisa diukur untuk tahun ini, analis memperkirakan kinerja ekspor RI tahun 2025 diprediksi bisa turun sekitar US$ 3 miliar sampai US$ 12 miliar.

"Dalam skenario inelastis, RI masih mampu menghasilkan surplus sebesar US$ 1,71 miliar yang sangat kecil kemungkinannya. Sedangkan dalam skenario uniter hingga sangat inelastis, kami perkirakan RI akan mencatat defisit perdagangan sebesar US$ 1,26 miliar sampai US$ 7,19 miliar terhadap AS pada 2025, berbalik total dari posisi surplus dengan AS tahun lalu sebesar US$ 14,36 miliar," demikian hasil riset dikutip.

(rui)

No more pages