Di samping itu, menurut Ubaid pemerintah harus memiliki sistem yang seimbang untuk diterapkan kepada komunitas pesantren ketika kuliah nanti.
“Menurut saya pakem utama dari pedoman teknis-teknis harus bersifat adaptif, karena dunia santri ada pembeda dengan dunia kampus yang formal pada umumnya,” katanya.
“Oleh karena itu soal kualitas harus tetap terjaga kemudian kemudahan harus dibuka lebar, standar yang dibuka teknis itu bisa diterapkan adaptif. Saya berharap dengan adanya peluang meningkatkan akses anak-anak Indonesia untuk bisa mengenyam dan duduk di kursi PT,” tambahnya.
Diberitakan sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno mendorong para santri di Indonesia agar mereka bisa kuliah dari pondok pesantren.
Hal itu dibuat melalui program SALUT (Sentra Layanan Universitas Terbuka) oleh Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK).
Menteri Kemenko PMK, Pratikno berharap bahwa keberadaan SALUT bisa menjadi solusi konkret, supaya para santri dan pengasuh pondok pesantren dapat mengakses pendidikan tinggi dengan lebih mudah.
“Manfaatkan ini dengan sebaik-baiknya. Para pengasuh kami dorong untuk turut mengawal, agar SDM unggul bisa terus ditingkatkan, sehat secara fisik, moral, mental, dan juga semakin terdidik, semakin kompeten,” kata dia.
(dec/spt)































