“Perjanjian ini juga akan membantu memperkuat rantai pasok bahan baku kritis yang penting bagi industri teknologi bersih dan baja Eropa. Saya kini menantikan penyelesaian perjanjian ini secara cepat,” kata Von Der Leyen.
Posisi Uni Eropa termasuk penting bagi perdagangan Indonesia. RI menikmati surplus dagang dengan Uni Eropa senilai US$4,5 miliar pada 2024, meningkat 80% bahkan ketika tren ekspor ke Eropa cenderung turun sejak 2022 silam.
Melansir data Badan Pusat Statistik, pada 2024, nilai ekspor RI ke Uni Eropa mencapai US$17,35 miliar. Angka itu setara dengan 6,5% dari total ekspor tahun lalu sebesar US$266,53 miliar.
Ekspor ke Eropa tahun lalu turun tipis 3% dibanding tahun 2023 dan jauh lebih kecil dibanding tahun 2022 ketika ekspor RI ke kawasan 27 negara tersebut yang mencapai US$21,47 miliar.
Di antara negara kelompok Uni Eropa, ekspor Indonesia ke Belanda, Jerman, dan Italia menduduki posisi teratas dimana pada tahun 2024, dengan nilai total ekspor US$9,39 miliar, naik 10,6% dibanding tahun sebelumnya.
Beberapa komoditas utama yang mendominasi ekspor RI ke Uni Eropa di antaranya adalah minyak kelapa sawit (CPO) dan turunannya. Lalu, bijih tembaga, fatty acids (oleokimia), produk alas kaki, bungkil kelapa, besi baja, lemak cokelat dan kopra, serta produk berbasis karet dan mesin.
Melansir studi yang pernah digelar oleh CSIS pada 2021 dan Sustainability Impact Assessment oleh Komisi Eropa pada 2020, diperkirakan manfaat ekonomi dari kesepakatan dagang RI dengan Uni Eropa, IEU-CEPA, bisa mendorong pertumbuhan ekspor RI hingga 57,56% dalam tiga tahun ke depan.
Dari situ, sumbangan terhadap Produk Domestik Bruto diprediksi mencapai 0,19% dan tambahan pendapatan nasional senilai US$2,8 miliar.
Permintaan di Eropa
Ancaman tarif AS sebesar 32% yang akan berlaku 1 Agustus nanti, terutama bila negosiasi yang digeber pemerintah tak jua menghasilkan pengurangan tarif apapun, akan berdampak tak kecil pada kinerja perdagangan RI keseluruhan.
Itu karena posisi AS yang strategis bagi Indonesia di mana selama Januari-Mei saja, nilai ekspor nonmigas RI ke Negeri Paman Sam itu mencapai US$ 12,11 miliar, setara dengan 11,42% dari total ekspor RI pada periode tersebut dan membawa AS sebagai tujuan ekspor terbesar kedua Indonesia mengalahkan Tiongkok.
Ekspor terbesar RI ke Amerika Serikat di antaranya pakaian jadi (konveksi), alas kaki atau sepatu, pakaian rajutan, peralatan listrik, juga minyak kelapa sawit, kopi, sampai mainan.
Pada 2024, total ekspor RI ke Amerika mencapai US$28,18 miliar, berkontribusi sebesar 9,65%. Itu menjadikannya negara tujuan ekspor kedua terbesar Indonesia setelah Tiongkok yang kontribusinya mencapai 22,56%.
Dengan perluasan pasar ekspor ke Uni Eropa, Indonesia mungkin bisa mengalihkan komoditas yang semula lebih banyak menyasar AS ke Benua Biru. Misalnya, pakaian jadi, juga kopi, serta minyak sawit.
Hanya saja, penting juga untuk melihat prospek permintaan di Uni Eropa. Pertumbuhan ekonomi benua terbesar keenam tersebut hanya 0,9% pada 2024.
Laju ekonomi Benua Biru yang lesu, nyatanya berdampak pada penurunan ekspor RI ke kawasan tersebut. Pada 2023 misalnya, ketika PDB Uni Eropa hanya tumbuh 0,5% dari capaian 3,5% di tahun 2022, ekspor Indonesia ke Zona Euro juga melemah tajam hingga 22,4%.
Ketika ekonomi Uni Eropa berhasil tumbuh sedikit lebih tinggi pada tahun lalu, ekspor RI ke kawasan tersebut stagnan di kisaran US$17,35 miliar, lebih rendah dibanding nilai ekspor 2023 sebesar US$18 miliar.
Bank Duniadalam proyeksi terbaru yang dilansir Juni lalu, memperkirakan pertumbuhan ekonomi Zona Euro diproyeksikan melambat pada 2025 dengan pertumbuhan hanya 0,7%, tetap sedikit di bawah tren sekitar 1% dengan rata-rata growth hanya 0,9% selama 2026-2027.
Sementara Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan, pertumbuhan ekonomi Benua Biru tahun ini akan stagnan hanya tumbuh 0,8% tak berubah dari perkiraan growth tahun lalu. Pada 2026, laju PDB Uni Eropa diperkirakan 1,18% lalu makin menanjak pada 2027 dan 2028 masing-masing diestimasikan tumbuh 1,34% dan 1,29%.
(rui/aji)





























