Logo Bloomberg Technoz

Pergerakan imbal hasil surat utang pemerintah memperlihatkan stabilitas meski sentimen di pasar global kembali memanas menyusul ancaman baru Presiden AS Donald Trump yang hendak mengenakan tarif universal (blanket tariff) di kisaran 15%-20%, lebih tinggi ketimbang tingkat tarif universal sebelumnya sebesar 10%.

Perkembangan baru itu telah mengerek lagi pamor dolar AS. Indeks yang mengukur kekuatan dolar AS terhadap enam mata uang utama dunia, DXY, siang ini terpantau naik 0,14% ke level 97,79.

Penguatan dolar AS telah menekan mata uang yang jadi lawannya di semua kawasan, termasuk mata uang utama, mata uang negara maju juga di pasar Asia.

Rupiah Stabil

Rupiah juga tak steril dari tekanan di awal perdagangan hari ini dengan dibuka melemah 0,17%. Namun, menjelang tengah hari ini, rupiah berbalik menguat tipis di kisaran Rp16.214/US$, bergabung dengan sebagian kecil mata uang Asia yang juga melenggang ke zona hijau seperti baht, yuan, dolar Taiwan dan dolar Hong Kong.

Stabilnya rupiah hari ini memberikan penguatan pada gerak aset di pasar fixed income maupun saham.

IHSG bahkan semakin melesat menyentuh 7.035, memperpanjang reli selama sepekan penuh di tengah animo yang besar dari investor terhadap saham-saham IPO.

Rupiah selama pekan ini memang masih membukukan pelemahan 0,19%. Namun, besar pelemahan itu masih lebih baik dibanding mata uang Asia lain seperti yen, dolar Taiwan yang ambles sampai lebih dari 1%. Juga masih lebih baik dibanding ringgit, baht serta rupee dan won.

Rupiah yang cenderung kalem akan memberi penguatan lebih besar pada Dewan Gubernur Bank Indonesia untuk menimbang kelanjutan pelonggaran moneter dalam pertemuan pekan depan.

Sebagai gambaran, sejak keputusan RDG BI bulan lalu yang menahan BI rate, rupiah telah membukukan penguatan sebesar 0,51%, terbaik keempat di Asia sejauh ini. Sedangkan bila mengukur kinerjanya selama kuartal tiga ini, rupiah juga masih 'hijau' dengan penguatan 0,12%, terbaik kedua di kawasan Asia.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan berulangkali, otoritas moneter masih akan mencari ruang penurunan suku bunga acuan lebih lanjut terutama bila kondisi rupiah bertahan stabil. Capaian kinerja rupiah tersebut mendukung ekspektasi akan berlanjutnya penurunan BI rate pada pertemuan pekan depan.

BI juga mungkin akan mencermati gelagat kembalinya dana asing ke pasar domestik terutama di pasar surat utang negara. Setelah mencetak net sell pada Juni, memasuki kuartal ketiga ini, investor asing menambah lagi posisi di Surat Berharga Negara (SBN) senilai Rp17,2 triliun selama Juli ini sampai data 8 Juli lalu.

Nilai belanja asing di SBN itu mengimbangi tekanan jual investor global di pasar saham yang mencapai US$ 292,9 juta atau sekitar Rp4,75 triliun selama kuartal ketiga ini hingga data perdagangan terakhir Kamis kemarin.

"Kami memprediksi BI rate cut pada Rabu pekan depan sebesar 25 bps menjadi 5,25%," prediksi tim analis Mega Capital Sekuritas dalam catatannya, hari ini.

(rui/aji)

No more pages