Akan tetapi, ternyata sindrom ini bisa mengarah pada tingkat penyakit kronik. Hal ini disebabkan pengobatan tak tuntas atau tidak mengikuti sesuai anjuran dokter.
“Kadang orang tua menghentikan pengobatan setelah gejala mereda. Padahal, jika terapi tidak lengkap, sindrom ini bisa berkembang menjadi resisten terhadap obat dan akhirnya menjadi penyakit ginjal kronik,” ujarnya.
Risiko jangka pendek dari sindrom nefrotik ini meliputi gangguan pernapasan hingga gagal ginjal akut. Sementara komplikasi panjang dikhawatirkan penyakit kronik tahap terakhir dan memerlukan cuci darah seumur hidup.
“Sindrom nefrotik bukan penyakit yang menular. Asal kita temukan secara dini dan terdeteksi sejak awal serta ditangani secara tepat, anak-anak bisa sembuh dan hidup normal,”imbuhnya.
Dia pun berharap agar pemerintah segera menginisiasi program penapisan dini atau skrining secara rutin untuk mendeteksi kebocoran protein dalam urine.
Mengingat disebutkan penyakit ini secara kasat mata, anak-anak tampak sehat.
“Kami pernah melakukan studi di salah satu SMA di Jawa Barat. Dari 1.280 siswa, sekitar 12% terbukti mengalami proteinuria, padahal secara kasat mata mereka tampak sehat,” urainya.
Ia juga menyoroti pentingnya kebijakan nasional yang mendukung pemeriksaan urine secara rutin, mengingat saat ini klaim BPJS tidak mencakup biaya untuk skrining demi melindungi generasi masa depan dari penyakit ginjal kronik yang berat dan mahal.
“Kita perlu mendorong sistem jaminan kesehatan agar mendukung deteksi dini. Kalau sudah kronik, biaya jauh lebih besar dan kualitas hidup anak juga menurun,” tutupnya.
(dec/spt)































