Logo Bloomberg Technoz

Menteri Perdagangan Howard Lutnick, dalam wawancara dengan CNBC tak lama setelah rapat Kabinet, mengatakan bahwa penyelidikan departemennya terkait tembaga telah selesai dan ia memperkirakan tarif tersebut “kemungkinan akan diberlakukan pada akhir Juli — mungkin 1 Agustus.”

“Tembaga sudah selesai. Kami telah menyelesaikan studi kami,” kata Lutnick.

“Kami telah menyerahkan studi tersebut kepada presiden. Presiden tahu bahwa ia memiliki wewenang, karena kami telah mempelajari pasar tembaga, untuk menetapkan tarif pasar bagi tembaga.”

Trump mengatakan bahwa ia memperkirakan akan memberikan waktu kepada produsen farmasi untuk memindahkan operasinya ke AS sebelum memberlakukan tarif hingga 200% atas produk mereka.

Indeks S&P 500 untuk perusahaan farmasi berbalik melemah setelah pernyataan Trump, sementara saham Eli Lilly & Co., Merck & Co., dan Pfizer Inc. memangkas kenaikan sebelumnya.

“Kita akan memberi waktu sekitar satu tahun, satu setengah tahun, bagi mereka untuk masuk,” kata Trump. 

“Dan setelah itu, mereka akan dikenai tarif jika masih harus mengimpor produk farmasi, obat-obatan dan lainnya, ke dalam negeri. Mereka akan dikenai tarif dengan tingkat yang sangat sangat tinggi, seperti 200%. Kami akan memberi mereka jangka waktu tertentu untuk membereskan urusan mereka.”

Dorongan Penerapan Tarif

Trump telah lebih dulu mengumumkan penyelidikan berdasarkan Section 232 dari Undang-Undang Perluasan Perdagangan 1962 terhadap masing-masing produk tersebut, dengan alasan bahwa membanjirnya impor asing mengancam keamanan nasional. Setelah upaya tersebut diselesaikan, Trump diperkirakan akan melanjutkan dengan penerapan tarif.

Upaya ini terpisah dari langkah Trump lainnya untuk mengumumkan tarif baru yang spesifik per negara, yang tidak akan berlaku bagi produk yang dikenai tarif berdasarkan Section 232. Pada hari Selasa sebelumnya, Trump menegaskan bahwa tarif spesifik per negara itu akan mulai diberlakukan pada awal Agustus.

Tarif tembaga, meskipun sudah lama diisyaratkan, mengancam untuk mengguncang industri yang selama beberapa dekade bergantung pada kombinasi produksi domestik yang kuat dan impor stabil dari beberapa sekutu dagang terkuat AS. Langkah ini juga muncul setelah pada masa jabatan pertamanya, Trump memusatkan perang dagang bahan mentah pada baja dan aluminium — membuat para produsen, pedagang, dan konsumen tembaga sempat lega karena terhindar dari gejolak pasar.

Arahan Trump ini juga datang di saat AS dan dunia bersiap menghadapi lonjakan besar dalam permintaan logam industri tersebut selama dekade mendatang. Pusat data, perusahaan otomotif, perusahaan energi, dan lainnya kini berlomba-lomba mencari bahan baku penting untuk meningkatkan produksi kendaraan listrik dan kapasitas jaringan listrik. Modernisasi sistem energi dan transportasi agar berjalan dengan energi terbarukan akan membutuhkan jauh lebih banyak tembaga dibandingkan dengan komitmen produksi yang ada saat ini.

AS mengonsumsi sekitar 1,6 juta ton tembaga rafinasi pada tahun 2024, menurut Survei Geologi AS (US Geological Survey). Meskipun AS memiliki tambang dalam jumlah besar — memproduksi sekitar 850.000 ton tembaga primer tahun lalu — negara ini tetap bergantung pada impor dari sekutu dagang utama untuk memenuhi kebutuhan. Chili merupakan sumber impor terbesar, menyumbang 38% dari total volume impor, diikuti oleh Kanada (28%) dan Meksiko (8%). Impor bersih tembaga mencakup sekitar 36% dari permintaan, menurut riset Morgan Stanley.

Ancaman terhadap Industri Obat

Trump telah membahas soal industri farmasi sejak awal ia meluncurkan agenda tarifnya, meskipun ada kekhawatiran dari industri bahwa tarif tersebut dapat mengacaukan rantai pasokan, memperburuk kelangkaan obat, dan meningkatkan biaya bagi warga Amerika.

Ia sejak lama mengkritik produksi obat di luar negeri sebagai ancaman terhadap keamanan nasional, dan mengangkat isu tarif sebagai cara untuk mendorong produsen obat agar memproduksi di dalam negeri. Sejumlah perusahaan kemudian menanggapi dengan serangkaian pengumuman investasi manufaktur bernilai miliaran dolar di AS.

Setiap tarif yang diterapkan diperkirakan akan berdampak besar terhadap Irlandia, yang mencatat surplus perdagangan sebesar $54 miliar (€47,6 miliar) dengan AS — salah satu faktor yang memicu kemarahan Trump.

Ketimpangan ini, yang sebagian besar didorong oleh sektor farmasi, berasal dari rezim pajak Irlandia yang menguntungkan dan tenaga kerja yang sangat terdidik. 

Perusahaan obat AS, termasuk Lilly dan Pfizer, mengoperasikan hampir dua lusin pabrik di Irlandia yang mengekspor ke AS, menurut analisis TD Cowen.

(bbn)

No more pages