Ia menambahkan bahwa BNI melihat kebutuhan akan pembiayaan ramah lingkungan terus mengalami pertumbuhan, baik dari pelaku usaha besar maupun UMKM. Hal ini dipandang sebagai peluang untuk memperluas dampak positif dalam mendukung pertumbuhan ekonomi hijau.
Dalam aspek pengelolaan risiko iklim, BNI telah melakukan climate risk stress testing (CRST) terhadap 50% dari portofolio kreditnya sepanjang tahun 2024. Inisiatif ini akan diperluas mencakup seluruh portofolio kredit pada 2025.
“Langkah ini mencerminkan kesiapan BNI dalam menghadapi potensi risiko perubahan iklim dan memperkuat ketahanan serta daya saing ekonomi nasional di era ekonomi hijau,” terang Okki.
Dengan berbagai langkah strategis tersebut, BNI menegaskan posisinya sebagai pelopor pembiayaan hijau di sektor perbankan nasional, sekaligus mendukung terciptanya transisi energi yang inklusif dan berkelanjutan di Indonesia.
(tim)
































