Logo Bloomberg Technoz

Bakal Diumumkan Saat RUPS, Tengok Historis Dividen BCA


Bank BCA (Dimas Ardian/Bloomberg)
Bank BCA (Dimas Ardian/Bloomberg)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Pergerakan saham PT Bank Central Asia Tbk kembali menjadi perhatian pasar menjelang pelaksanaan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan RUPST yang dijadwalkan berlangsung pada Kamis 12 Maret 2026. Bank swasta terbesar di Indonesia itu dikenal memiliki kapitalisasi pasar terbesar di sektor perbankan domestik sehingga setiap keputusan korporasi kerap menjadi acuan investor.

Salah satu agenda yang paling dinanti dalam RUPST tersebut adalah keputusan penggunaan laba bersih tahun buku 2025. Investor menaruh perhatian besar pada besaran dividen yang akan dibagikan kepada para pemegang saham.

Selama bertahun tahun, BCA dikenal sebagai emiten yang konsisten membagikan dividen dalam jumlah besar. Rasio pembagian dividen perusahaan bahkan tergolong tinggi dibandingkan banyak perusahaan lain di Bursa Efek Indonesia.

Dalam beberapa tahun terakhir, bank berkode saham BBCA tersebut secara rutin menyalurkan sekitar 68 persen hingga 70 persen laba bersihnya sebagai dividen. Konsistensi itu membuat saham BBCA kerap menjadi pilihan investor yang mencari pendapatan stabil dari dividen.

Kebijakan dividen yang stabil tersebut juga memperkuat reputasi BCA sebagai saham defensif di sektor perbankan. Investor jangka panjang umumnya menilai stabilitas dividen sebagai indikator kesehatan fundamental perusahaan.

Pada tahun buku 2024 misalnya, BCA membagikan dividen final sebesar Rp300 per saham. Total nilai dividen yang dibagikan mencapai Rp36,98 triliun atau setara dengan sekitar 67,4 persen dari laba bersih perusahaan pada tahun tersebut.

Pembagian dividen dalam jumlah besar tersebut menjadi salah satu faktor yang mendorong minat investor terhadap saham BBCA. Tidak sedikit investor yang menjadikan saham ini sebagai instrumen investasi jangka panjang.

Sementara itu, untuk tahun buku 2025 perusahaan juga telah lebih dulu membagikan dividen interim kepada pemegang saham. Nilai dividen interim tersebut mencapai Rp55 per saham.

Total dividen interim yang sudah dibagikan BCA mencapai sekitar Rp6,77 triliun. Pembagian dividen interim tersebut menjadi sinyal awal mengenai komitmen perusahaan dalam menjaga konsistensi pembagian dividen kepada investor.

Kinerja keuangan perusahaan sepanjang tahun 2025 juga menunjukkan hasil yang positif. BCA tercatat membukukan laba bersih sebesar Rp57,5 triliun pada tahun tersebut.

Angka tersebut meningkat sekitar 4,9 persen dibandingkan capaian laba bersih pada tahun sebelumnya. Pertumbuhan laba tersebut memperkuat ekspektasi pasar bahwa dividen yang dibagikan tahun ini berpotensi lebih besar.

Jika perusahaan mempertahankan rasio pembagian dividen sekitar 70 persen dari laba bersih, maka total dividen yang dapat dibagikan berpotensi mencapai sekitar Rp40,25 triliun.

Potensi pembagian dividen dalam jumlah besar ini dinilai dapat menjadi katalis positif bagi saham BBCA. Hal ini terutama karena harga saham bank tersebut sempat mengalami tekanan dalam beberapa waktu terakhir.

Bagi investor yang berorientasi pada pendapatan dividen, peluang imbal hasil dividen dari saham BBCA menjadi semakin menarik. Dividend yield yang lebih tinggi dapat meningkatkan daya tarik saham ini di tengah kondisi pasar yang fluktuatif.

Fundamental BCA Tetap Solid

Di luar potensi dividen, kinerja fundamental BCA sepanjang tahun 2025 juga dinilai tetap kuat. Sejumlah analis menilai perusahaan masih menunjukkan ketahanan bisnis di tengah dinamika ekonomi global dan industri perbankan domestik.

Riset yang dilakukan oleh Samuel Sekuritas menunjukkan bahwa pertumbuhan laba BCA secara umum sejalan dengan ekspektasi analis. Hal ini memperlihatkan stabilitas model bisnis perusahaan.

Analis Samuel Sekuritas Prasetya Gunadi dan Brandon Boedhiman menilai pertumbuhan laba tersebut terutama didorong oleh peningkatan pendapatan operasional sebelum pencadangan atau PPOP.

Selain itu, disiplin dalam pengelolaan biaya operasional juga menjadi faktor penting yang membantu menjaga efisiensi perusahaan. Efisiensi ini pada akhirnya mendukung tingkat profitabilitas BCA.

Meskipun demikian, perusahaan juga menghadapi sejumlah tantangan pada sisi margin bunga bersih atau Net Interest Margin NIM. Sepanjang tahun 2025 NIM BBCA tercatat berada di kisaran 5,7 persen.

Angka tersebut sedikit menurun dibandingkan periode sebelumnya. Penurunan tersebut terutama dipengaruhi oleh dinamika suku bunga serta penyesuaian pada yield aset yang dimiliki bank.

Meski menghadapi tekanan pada margin bunga, kualitas aset BCA tetap dinilai solid. Rasio kredit bermasalah atau non performing loan NPL perusahaan masih berada pada tingkat yang relatif rendah.

Sepanjang tahun 2025 rasio NPL BCA tercatat sekitar 1,7 persen. Angka tersebut mencerminkan profil risiko kredit yang tetap terjaga dengan baik.

Pada kuartal IV 2025 rasio kredit bermasalah bruto atau gross NPL bahkan menurun menjadi 1,7 persen dari sebelumnya 2,1 persen pada kuartal III 2025. Penurunan ini menjadi sinyal perbaikan kualitas portofolio kredit perusahaan.

Selain itu Loan at Risk atau LAR juga mengalami perbaikan menjadi 4,8 persen. Pada saat yang sama cakupan pencadangan terhadap NPL atau NPL coverage meningkat hingga mencapai 184 persen.

Dalam laporan risetnya, analis juga menyoroti praktik manajemen risiko yang konservatif yang diterapkan perusahaan. Hal ini dinilai berperan penting dalam menjaga stabilitas kualitas kredit BCA.

“Sepanjang tahun 2025, biaya kredit (credit cost) tercatat sebesar 42 basis poin (bps), masih berada dalam kisaran panduan manajemen. Hal ini mencerminkan praktik underwriting yang konservatif serta manajemen risiko yang proaktif.” Tulis Prasetya dan Brandon dalam laporan risetnya.

Selain kualitas kredit yang stabil, kekuatan permodalan BCA juga menjadi faktor penting yang diperhatikan investor. Struktur permodalan yang kuat memberikan ruang bagi perusahaan untuk terus tumbuh.

Dari sisi permodalan, posisi modal BBCA tercatat sangat solid dengan rasio Common Equity Tier 1 CET1 sebesar 29,2 persen. Sementara itu rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio CAR berada di level 30,4 persen.

Kondisi permodalan tersebut memberikan fleksibilitas bagi perusahaan untuk mendukung ekspansi bisnis sekaligus menghadapi potensi volatilitas ekonomi hingga tahun 2026.

Kombinasi antara profitabilitas yang stabil, kualitas aset yang sehat, serta kebijakan dividen yang konsisten membuat saham BBCA tetap menjadi salah satu favorit investor di pasar modal.

Tidak mengherankan jika menjelang pelaksanaan RUPST 2026 perhatian pasar kembali tertuju pada pergerakan saham bank tersebut. Keputusan pembagian dividen dalam rapat tersebut diperkirakan akan menjadi faktor penting yang memengaruhi sentimen investor dalam waktu dekat.