Logo Bloomberg Technoz

Mengacu data yang telah dikompilasi oleh Bloomberg, nilai penggalangan modal segar dari penerbitan obligasi korporasi selama enam bulan pertama tahun ini telah mencapai Rp106,3 triliun.

Sedangkan berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, sampai awal Juni lalu, total emisi obligasi dan sukuk sepanjang tahun 2025 telah mencapai 45 emisi dari 31 emiten senilai Rp58,74 triliun.

Memasuki semester kedua tahun ini, gelombang penerbitan obligasi korporasi dari Indonesia diperkirakan akan terus berlanjut menyusul adanya nilai utang rupiah jatuh tempo korporasi senilai Rp89,5 triliun pada sisa tahun ini.

Angka itu akan membawa total nilai utang jatuh tempo korporasi Indonesia pada tahun 2025 menyentuh rekor tahunan. Pada awal tahun, diperkirakan sekitar Rp149 triliun obligasi korporasi akan jatuh tempo pada 2025 ini menurut data Bloomberg.

Penerbitan obligasi apakah itu jenis utang baru atau refinancing, akan mendapat dukungan dari prospek suku bunga acuan yang kemungkinan akan berlanjut turun di sisa tahun ini.

Tingkat imbal hasil alias yield obligasi korporasi tenor tiga tahun, yang umum disasar obligasi swasta, sudah turun 70 basis poin tahun ini, seiring dengan penurunan BI rate tahun, seperti ditunjukkan oleh data Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI) atau IBPA.

Imbal hasil surat utang atau obligasi korporasi Indonesia (Bloomberg)

Kini dengan ekspektasi penurunan BI rate makin menguat untuk pertemuan Juli atau Agustus nanti, korporasi kemungkinan akan makin bergairah memanfaatkan momentum mendapatkan pendanaan dengan biaya (cost of fund) lebih murah.

Data inflasi Juni yang masih terkendali dengan indikasi pelemahan tingkat permintaan yang dalam dua bulan beruntun, ditambah data manufaktur yang terkontraksi selama tiga bulan berturut-turut, memperkuat peluang bagi Bank Indonesia untuk menurunkan lagi tingkat BI rate hingga ke level 5% tahun ini. 

Rilis data-data tersebut menguatkan ekspektasi akan berlanjutnya lagi pemangkasan suku bunga acuan Bank Indonesia pada kuartal ketiga tahun ini, menurut perkiraan Bloomberg Economics.

"Kami memperkirakan BI akan menurunkan suku bunga lagi sebesar 25 basis poin pada kuartal ketiga, secepatnya pada bulan Juli ini bila kinerja rupiah mampu mempertahankan penguatannya," kata Tamara Henderson, ekonom dari Bloomberg Economics.

Gelar lelang Surat Utang Negara pada Selasa lalu yang memecahkan rekor tertinggi kedua sepanjang sejarah lelang, juga dipanaskan oleh menguatnya spekulasi penurunan BI rate dalam waktu dekat.

Likuiditas Seret

Upaya menarik modal segar dari penerbitan surat utang juga menjadi andalan banyak perbankan yang masih menghadapi kesulitan dalam menggaet Dana Pihak Ketiga.

Sampai Mei lalu, seperti ditunjukkan oleh data Bank Indonesia, penghimpunan DPK oleh perbankan hanya tumbuh 3,9% year-on-year, makin melemah dibanding bulan sebelumnya yang masih tumbuh 4,4%. 

Kelesuan penggaetan DPK mempengaruhi pula laju kredit perbankan yang hanya tumbuh 8,1% pada Mei, setelah bulan sebelumnya masih tumbuh 8,5%.

Penyaluran kredit ke korporasi melemah, hanya tumbuh 11,6% pada Mei lalu setelah bulan sebelumnya masih tumbuh 12,6%. Sedangkan penyaluran kredit ke nasabah individu stagnan dengan pertumbuhan 4% saja. 

Beberapa bank yang telah meraup dana dari penerbitan obligasi di pasar di antaranya adalah PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) yang meraih Rp5 triliun pada Juni.

Lalu, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) yang mengantongi Rp4,5 triliun pada Maret dari penerbitan obligasi.

Bank-bank lain yang mencari permodalan dari penerbitan obligasi sebelum tutup tahun ini, di antaranya adalah PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) yang membidik dana Rp5 triliun dari penjualan obligasi sosial.

Ada juga PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) yang membidik dana Rp5 triliun juga, lalu OCBC NISP yang berniat menarik dana dari obligasi Rp1,5 triliun, dan lain-lain.

Sementara korporasi nonkeuangan juga tak mau kalah hendak mencari dana dari penerbitan surat utang.

Di antaranya adalah perusahaan kertas yang tergabung di bawah bendera APP Group, akan menawarkan Obligasi Berkelanjutan dan Sukuk Mudharabah Berkelanjutan II Tahap II senilai Rp3 triliun.

Juga perusahaan tambang, PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) yang menawarkan Obligasi Berkelanjutan dan Sukuk Mudharabah Berkelanjutan I Tahap I Tahun 2025 senilai Rp3 triliun. 

"Kami berharap penerbit akan terus merambah pasar pada paruh kedua tahun ini meskipun jumlahnya tidak akan setinggi paruh pertama," kata Puneet Punj, Managing Director of Global Financial Markets for Bank DBS Indonesia seperti dikutip dari Bloomberg News.

(rui/aji)

No more pages