Berkaca dari gerak rupiah di pasar offshore, kemungkinan akan sulit bagi rupiah spot untuk melanjutkan penguatan lebih jauh setelah kemarin ditutup naik nilainya 0,25% di level Rp16.198/US$.
Sentimen dari dalam negeri juga akan membuat pasar lebih waspada. Dalam paparannya di DPR-RI kemarin, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan, defisit anggaran tahun ini diperkirakan melebar menjadi 2,78% dari target 2,53% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Potensi pelebaran defisit fiskal itu masih di bawah ketentuan Undang-Undang yang membatasi maksimal 3% dari PDB.
Menkeu juga memperkirakan pendapatan negara juga kemungkinan lebih rendah dari perkiraan semula karena penurunan pendapatan pajak. Belanja juga diprediksi lebih kecil ketmbang ekspektasi semula.
Untuk membiayai defisit, Menkeu Sri mengatakan, pemerintah akan memakai Saldo Anggaran Lebih (SAL) senilai Rp85,6 triliun, sehingga tidak berniat menaikkan nilai penerbitan surat utang.
Hal itu mungkin akan memberikan kelegaan pada pasar surat utang. Dalam lelang Surat Utang Negara (SUN) yang dilangsungkan kemarin, animo investor melesat tajam hingga 50,71% dibanding lelang sebelumnya, dengan incoming bids menembus Rp121,68 triliun.
Lonjakan minat itu kemungkinan juga dilatarbelakangi data inflasi Juni yang memperkuat ekspektasi pemangkasan suku bunga acuan, BI Rate, dalam waktu dekat.
Bank investasi asal Jepang Nomura sebelumnya memperkirakan defisit APBN 2025 Indonesia kemungkinan akan melebar hingga 2,9% dari PDB akibat perlambatan ekonomi domestik.
Bunga acuan The Fed
Di pasar global, perhatian pelaku pasar juga terarah pada pernyataan terakhir Gubernur Federal Reserve Jerome Powell kemarin
Powell kembali menegaskan bahwa bank sentral AS kemungkinan besar sudah menurunkan suku bunga lebih jauh tahun ini jika bukan karena perluasan penggunaan tarif oleh Donald Trump.
“Pada dasarnya, kami menahan diri ketika melihat besarnya tarif yang diberlakukan, dan hampir semua proyeksi inflasi untuk Amerika Serikat naik secara signifikan akibat tarif tersebut,” kata Powell pada Selasa (1/7/2025) dalam sebuah diskusi panel bersama para pemimpin bank sentral lainnya yang dimoderatori oleh Francine Lacqua dari Bloomberg.
“Kami menilai langkah bijak adalah menunggu, mempelajari lebih lanjut, dan melihat seperti apa dampaknya nanti,” tambahnya.
Meski demikian, ketika ditanya apakah bulan Juli terlalu cepat untuk penurunan suku bunga, Powell tidak menutup kemungkinan tersebut.
Sementara terkait kebijakan tarif di mana penundaan pemberlakuan akan berakhir pada 9 Juli nanti, Presiden Trump mengatakan ia tidak mempertimbangkan untuk menunda batas waktu 9 Juli untuk kembali menaikkan tarif.
Trump juga memperbarui ancamannya untuk menghentikan pembicaraan dan memberlakukan tarif pada sejumlah negara, termasuk Jepang.
"Tidak, saya tidak berpikir untuk menunda," kata Trump pada Selasa (2/7/2025) saat ditanya apakah ia akan memperpanjang periode negosiasi dengan mitra dagang. "Saya akan menulis surat ke banyak negara."
Pernyataan Trump memicu pelemahan pasar saham AS. Indeks S&P 500 langsung turun 14 poin setelah sebelumnya bergerak stabil. Hingga pukul 15.36 waktu New York, indeks acuan itu melemah 0,1%. Sementara itu, indeks volatilitas Cboe VIX melonjak di atas level 16,8 sebelum memangkas kenaikan.
(rui)




























