Logo Bloomberg Technoz

Iran telah memperingatkan bahwa keputusan Trump untuk jadi bagiand alam penyerangan militer Israel lewat aksi ke tiga situs nuklir utamanya akan memicu pembalasan.

Teheran dapat menutup Selat Hormuz, sebuah jalur air di mulut Teluk Persia yang membawa sekitar seperempat dari perdagangan minyak laut dunia.  

Harga minyak yang lebih tinggi akan menekan konsumen AS yang rekening banknya telah tertekan dalam beberapa tahun terakhir oleh inflasi. Ini merupakan perkembangan yang dapat menimbulkan ketegangan politik pada Trump dan Partai Republik. 

Jika selat ini ditutup untuk pengiriman, minyak mentah dapat melonjak melewati US$130 per barel, menurut perkiraan Bloomberg Economics.

Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan pada hari Senin sebelumnya bahwa AS “secara aktif memantau situasi di Selat Hormuz dan rezim Iran akan sangat konyol untuk membuat keputusan itu.”

Minyak pada hari Senin mulai menghapus kenaikan sebelumnya, namun, karena kekhawatiran mulai memudar akan adanya gangguan langsung pada suplai minyak di wilayah tersebut. Minyak Brent awalnya melonjak ke US$81,40 per barel, tetapi kemudian turun menjadi di bawah US$77. 

Timur Tengah Makin Panas, Harga Minyak Mentah Melambung (Diolah dari Berbagai Sumber)

Arahan Trump untuk lebih banyak pengeboran AS tidak dapat, dengan sendirinya, memacu lebih banyak pengembangan minyak dan gas.

Para eksekutif minyak AS telah menunjukkan keinginan dalam beberapa tahun terakhir untuk meningkatkan produksi secara dramatis, dengan harga West Texas Intermediate (WTI) di bawah biaya produksi di beberapa lokasi.

Perusahaan-perusahaan minyak umumnya merencanakan keputusan investasi di AS berdasarkan perkiraan harga jangka panjang - bukan lonjakan sementara yang dipicu oleh serangan terhadap Iran dan ketakutan akan gangguan pasokan di Timur Tengah.

7 BUMN Migas di Asia Jorjoran Capex (Bloomberg Technoz/Asfahan)

(bbn)

No more pages