Logo Bloomberg Technoz

Sementara pemerintah menyebut pemanfaatan pasir laut justru akan berdampak positif. Luhut Binsar Pandjaitan, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, menegaskan pemanfaatan pasir laut bisa menyehatkan ekosistem maritim.

“Kita lagi pendalaman alur. Kalau tidak, alur kita akan makin dangkal. Jadi untuk kesehatan laut juga,” tegas Luhut, Selasa (30/5/2023).

Selain itu, Luhut juga berkilah pemanfaatan pasir laut sebagian besar untuk kepentingan dalam negeri. Salah satunya untuk reklamasi pengembangan kawasan industri.

Ilustrasi pasir laut. (Brent Lewin/Bloomberg)

“Sekarang proyek satu besar ini di Rempang (Batam). Di sana ada yang mau direklamasi supaya bisa digunakan (kawasan industri). Ada industri besar untuk solar panel di situ. Jadi gede sekali nanti di sana,” tuturnya.

Sumber Daya Alam Terbatas

Sudah banyak kajian yang menyebut dampak negatif pemanfaatan pasir laut secara berlebihan. Salah satunya adalah yang berjudul Trading Sands, Undermining Lives: Omitted Livelihoods in the Global Trade in Sand karya Vanessa Lamb, Melissa Marschke, dan Jonathan Rigg yang dipublikasikan pada 2019.

“Pasir adalah sumber daya alam yang terbatas. Diambil dari sungai dan laut secara eksesif hingga melampaui pengembalian secara natural,” sebut makalah itu.

Saat ini, negara importir pasir laut terbesar di dunia adalah sang tetangga, Singapura. Selama ini, Negeri Singa mendatangkan pasir dari sesama negara ASEAN yaitu Kamboja, Vietnam, Malaysia, Myanmar, dan Filipina.

Impor Pasir Laut Singapura (Sumber: Makalah Trading Sands, Undermining Lives)

Singapura adalah konsumen terbesar pasir di dunia. Konstruksi dan reklamasi yang masif membuat Singapura harus mengimpor pasir, karena tidak punya sumber daya tersebut.

“Pada 1965, saat Singapura memperoleh kemerdekaan, luas wilayahnya adalah 581 km persegi dan pada 2015 menjadi 719 km persegi. Ekspansi terus terjadi dan pada 2030 diperkirakan luas wilayah Singapura bertambah 30% sejak 1965.

“Awalnya Singapura mengimpor pasir dari Indonesia dan Malaysia. Saat kedua negara tersebut melarang ekspor pasir, Singapura beralih ke Kamboja, Myanmar, Filipina, dan Vietnam,” terang makalah itu.

Sepanjang 207-2016, Singapura mengimpor 80,22 juta metrik ton pasir dan Kamboja dan lebih dari 27 juta metrik ton dari Myanmar. Jumlah ini mewakili 44% dari total impor pasir Singapura.

Seiring waktu, harga pasir pun terus turun. Pada 2007, harganya masih di atas US$ 20/metrik ton dan pada 2016 tinggal US$ 5/metrik ton. 

Harga Pasir Impor Singapura (Sumber: Makalah Trading Sands, Undermining Lives)

Oleh karena itu, sangat disayangkan jika Indonesia kembali membuka keran ekspor pasir. Sebab, ini sama saja dengan menjual tanah air dengan harga murah. 

(aji/roy)

No more pages