Sementara itu, sepanjang tiga bulan pertama 2025, CDIA membukukan pendapatan sebesar US$34,64 juta atau sekitar Rp569,61 miliar, mengalami penurunan dibandingkan pencapaian akhir 2024. Laba bersih pada periode tersebut mencapai US$30,23 juta, sedikit lebih rendah dibandingkan total laba sepanjang 2024.
Kendati begitu, struktur aset tetap memperlihatkan penguatan. Aset lancar tumbuh menjadi US$282,5 juta, dan aset tidak lancar juga meningkat menjadi US$889,71 juta. Di sisi lain, liabilitas jangka pendek naik menjadi US$37,51 juta, sedangkan liabilitas jangka panjang tercatat sebesar US$351,83 juta. Total penghasilan komprehensif hingga akhir Maret 2025 mencapai US$30,71 juta.
Adapun CDIA maju IPO dengan menawarkan 12,48 juta saham atau sekitar 10% dari total saham yang ditawarkan dan dicatatkan setelah IPO. Saham tersebut dibanderol dengan harga Rp170 hingga Rp190 per saham. Alhasil CDIA berpotensi meraih dana segar mencapai Rp2,37 triliun.
Saham CDIA dijadwalkan mulai tercatat dan diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia pada 8 Juli 2025. Sementara itu, periode penawaran awal berlangsung pada 19 hingga 24 Juni 2025, disusul dengan masa penawaran umum yang direncanakan pada 2 sampai 4 Juli 2025.
Struktur modal saham CDIA terdiri dari saham biasa atas nama dengan nilai nominal Rp100 per saham. Modal dasar perseroan mencapai 200 miliar lembar saham senilai Rp20 triliun. Dari jumlah tersebut, saham yang telah ditempatkan dan disetor penuh sebanyak 112,35 miliar lembar senilai Rp11,23 triliun. Saham tersebut dimiliki oleh PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) sebanyak 66,67% dan Phoenix Power B.V. sebanyak 33,33%. Adapun saham dalam portepel tercatat sebesar 87,65 miliar lembar atau setara Rp8,77 triliun.
(dhf)






























