Logo Bloomberg Technoz

Diponegoro Hero: Revolusi Sinema RI Melalui Kecerdasan Buatan


Bloomberg Technoz, Jakarta - Industri film Indonesia sedang menghadapi gelombang perubahan besar. Bukan sekadar perubahan format atau selera penonton—melainkan revolusi menyeluruh yang dipicu oleh kecanggihan teknologi kecerdasan buatan (AI).

Dalam episode terbaru Bloomberg Technoz Podcast – TechnoZone, host Pandu Sastrowardoyo bersama co-host Whery Prayogi berbincang hangat dengan dua figur sentral di balik film Diponegoro Hero: King Bagus, produser film sekaligus Co-founder USKY, serta Isybel Harto, CTO dan Co-founder dari platform film berbasis AI, USKY.

King Bagus membongkar proses produksi film Diponegoro Hero, yang diklaim sebagai film sejarah pertama di Indonesia yang diproduksi nyaris seluruhnya menggunakan AI. Dengan durasi 30 menit dan hanya melibatkan dua orang kru, produksi ini menandai babak baru dalam sinema tanah air.

“Kalau dulu butuh ratusan kru dan miliaran rupiah untuk film kolosal, sekarang cukup dua orang dengan imajinasi dan skill prom-engineering yang kuat,” ujar King. AI memungkinkan proses pembuatan film lebih cepat, lebih murah, tanpa mengorbankan nilai produksi.

Isybel menjelaskan visi USKY sebagai platform global berbasis Web3 yang membuka pintu bagi siapa pun untuk menjadi filmmaker. Dengan teknologi blockchain dan NFT, karya kreator bisa langsung dijual atau dilisensikan, memungkinkan monetisasi yang adil dan transparan.

Film Diponegoro Hero bukan sekadar proyek AI, tetapi juga pernyataan kebudayaan. Dengan menggandeng paguyuban trah Pangeran Diponegoro (Patrapadi), film ini diangkat berdasarkan sejarah 200 tahun Perang Jawa. King menekankan pentingnya menghadirkan tokoh sejarah dalam bentuk yang lebih segar dan pop, agar generasi muda tidak terputus dari akar bangsanya.

Tidak bisa dipungkiri, munculnya AI dalam perfilman menghadirkan resistensi dari sineas konvensional. Namun menurut Isybel, ini bisa menjadi peluang besar bagi industri yang memiliki IP (Intelectual Property) untuk nanti di gunakan oleh para film AI maker untuk dijadikan sebuah Film. Tentu secara ekonomi, IP ini akan kembali hidup dan karakter-karakter daerah yang telah mati, bisa dihidupkan kembali melalui AI.

Lewat Diponegoro Hero, King Bagus dan Isybel membuktikan bahwa batas antara imajinasi dan realisasi semakin tipis. Bahwa film bukan lagi domain eksklusif rumah produksi besar. Bahwa dengan ide yang kuat, AI yang tepat, dan semangat perlawanan dalam jiwa, siapa pun bisa menciptakan karya yang mengguncang dunia.

Dengarkan selengkapnya dalam episode terbaru Bloomberg Technoz Podcast – TechnoZone bertajuk “Diponegoro Hero: Revolusi Sinema Indonesia Melalui Kecerdasan Buatan”, hanya di www.bloombergtechnoz.com dan channel YouTube Bloomberg Technoz.

(pod)