Logo Bloomberg Technoz

Adapun pada Mei 2019 IHSG mencatatkan koreksi paling dalam mencapai 3,81%, dan melanjutkan tren negatif dari Mei 2018 yang mencatatkan koreksi 0,18%.

Bagaimana Mei 2023?

Pada tahun ini, pepatah "Sell in May and Go Away" tampaknya menjadi kenyataan. Setelah IHSG mengalami koreksi yang cukup tajam sepanjang Mei hingga mencapai 3,38%, bersamaan dengan tekanan jual yang digencarkan oleh investor asing dengan mencetak aksi jual bersih (net sell) mencapai Rp142 miliar.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Sepanjang Mei 2023 (Bloomberg)

Sentimen negatif yang telah ada dalam beberapa waktu terakhir menjadi faktor pendorong penurunan tersebut. Salah satunya adalah keputusan Bank Sentral Amerika Serikat (Federal Reserve/The Fed) pada awal bulan Mei, dan beberapa bank sentral di seluruh dunia yang menaikkan suku bunga acuan sebagai upaya untuk meredamkan tingkat inflasi yang masih tinggi.

Terlebih lagi, sentimen negatif pada bulan Mei juga datang dari kondisi keuangan AS atau plafon utang AS yang terancam terjadinya gagal bayar, menjadi isu terpanas beberapa waktu belakangan ini. Hingga sekarang, kesepakatan pemerintah AS dan DPR untuk menghindari bencana gagal bayar utang masih membayangi.

Harga Batu Bara ICE Newcastle secara Year to Date (Bloomberg)

Tekanan juga terjadi dari harga-harga komoditas dunia sepanjang 2023 yang berdampak langsung kepada gerak saham di IHSG, seperti WTI Crude Oil yang turun 10,07%, Crude Palm Oil koreksi 14,73%, dan emas hitam atau batu bara ICE Newcastle (Australia) anjlok 65,20% secara Year to Date (YtD).

Harga komoditas tersebut merupakan efek dari penurunan permintaan dari sejumlah negara akibat adanya kekhawatiran mengenai potensi perlambatan ekonomi global secara luas hingga akhir 2023.

(fad/aji)

No more pages