Logo Bloomberg Technoz

Sekadar catatan, produksi bijih timah TINS mencapai 19.437 ton pada 2024, naik dari realisasi tahun sebelumnya sebanyak 14.855 ton. Tahun ini, TINS membidik produksi sebanyak 21.500 ton bijih timah.

Sebagai perbandingan, produksi timah Yunnan Tin pada tahun lalu menembus 84.800 ton. 

Price Maker

Suhendra menjelaskan rencana TINS untuk membentuk skema perdagangan satu pintu tidak dimaksudkan untuk memonopoli perdagangan komoditas bahan baku solder tersebut.

Dalam kaitan itu, dia mengatakan, PT Timah tetap akan melibatkan peran pelaku usaha lain yang tergabung di dalam Asosiasi Eksportir Timah Indonesia (AETI).

Selain itu, perseroan juga akan melanjutkan dialog dengan DPR setelah mengemukakan wacana perdagangan satu pintu tersebut di Komisi VI DPRI RI pada 14 Mei 2025.

“Nanti kita bersama-sama untuk, katakanlah, bagaimana kita mengatur tentang harga. [...] Di situ masih ada proses bagaimana usulan dari DPR, bagaimana [jika perdagangan timah] tidak melalui bursa. Wacananya pun masih panjang,” tegas Suhendra.

Terkait dengan Yunnan Tin, Suhendra menyebut belum lama ini PT Timah telah menemui CEO perusahaan China tersebut di Jakarta guna membahas kerja sama di bidang transfer teknologi, serta kerja sama lainnya yang bisa saling menguntungkan kedua perusahaan.

“Intinya kami akan belajar bagaimana pengelolaan yang lebih bagus,” terangnya. 

“Mudah-mudahan dalam waktu dekat, kita juga bisa kerja sama dalam menentukan harga, karena selama ini kita ‘berdoa saja terus’ mudah-mudahan harga naik. Namun, setelah bertemu dan berkoordinasi dengan Yunnan Tin, tersedia jalan untuk kepentingan pemegang saham kita bisa lebih terwadahi dan kita bisa mendapatkan harga yang lebih bagus, sehingga keuntungan perusahaan mudah-mudahan bisa cepat naik.”

Timah diperdagangkan di harga US$32.644/ton di London Metal Exchange (LME) hari ini, melemah 0,02% dari hari sebelumnya.

Rerata harga timah pada tahun lalu mencapai US$30.000/ton, naik dari proyeksi sebelumnya di level US$28.000/ton, ditopang oleh sentimen gangguan pasokan di produsen utama Myanmar dan Indonesia, menurut data BMI, unit riset Fitch Solutions.

Adapun, pada kesempatan sebelumnya, PT Timah memproyeksikan harga timah pada 2025 berada di kisaran US$ 29.000/ton—US$ 31.000/ton, alias stagnan dari proyeksi harga yang ditetapkan perseroan untuk 2024.

Ingot dicetak dari timah cair di fasilitas pengolahan PT Timah di Mentok, Pulau Bangka./Bloomberg-Dimas Ardian

Untuk diketahui, pada medio Mei, Direktur Operasi dan Produksi PT Timah, Nur Adi Kuncoro menyatakan perseroan ingin menjual logam timah melalui skema penjualan satu pintu di Indonesia.

Hal ini dilakukan agar perseroan dapat menjadi aktor utama pemasok timah dan dapat mengontrol harga di pasar.

“[Mohon] dukungan kebijakan untuk mendorong penjualan timah satu pintu melalui BUMN PT Timah," kata Direktur Operasi dan Produksi PT Timah, Nur Adi Kuncoro dalam rapat bersama Komisi VI DPR RI, Rabu (14/5/2025).

Dengan berperan sebagai price maker, Nur Adi meyakini PT Timah ke depannya dapat memberikan kenaikan kontribusi bagi penerimaan negara. Lagipula, Indonesia merupakan salah satu produsen timah terbesar di dunia sehingga memiliki posisi kuat untuk mengatur suplai dan harga.

"Kita juga bisa mampu untuk menentukan harga dan harapannya adalah untuk kontribusi di negara Indonesia baik melalui royalti, dividen, dan lain sebagainya," ujarnya.

Saat dimintai konfirmasi dalam kesempatan terpisah, Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) menyebut hingga saat ini belum melakukan diskusi dengan PT Timahihwal niat perseroan menjadi price maker melalui skema penjualan timah satu pintu.

Kepala Bappebti Tirta Karma Senjaya mengatakan keinginan TINS tersebut baru diutarakan ke Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) melalui Komisi VI.

“Saat ini sih belum [TINS melapor ke Bappebti]. Akan tetapi, kalau misalkan berikutnya di Komisi VI memanggil lagi dengan Bappebti atau PT Timah-nya langsung dengan asosiasi, kami pun siap nanti,” ujarnya ditemui di kompleks parlemen usai rapat bersama komisi tersebut, Senin (19/5/2025) petang.  

Tirta pun memastikan Bappebti tidak akan mengubah aturan apapun terkait dengan mekanisme perdagangan komoditas timah.

Artinya, apabila TINS ingin mengajukan skema perdagangan satu pintu, perseroan harus mengikuti aturan Bappebti terkait dengan fee perdagangan timah di bursa berjangka.

Sekadar catatan, regulasi perdagangan timah termaktub di dalam Peraturan Bappebti No. 6/2024 tentang Perubahan Atas Peraturan Bappebti No. 11/2019 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Perdagangan Timah Murni Batangan Melalui Bursa Timah.

Tirta mengatakan, selama ini, harga timah yang diperdagangkan di PT Bursa Berjangka Jakarta atau Jakarta Futures Exchange (JFX) sudah sangat mendekati perkembangan global yang ada di LME.

(wdh)

No more pages