Namun, negosiasi antara kedua rival tersebut terhenti setelah pertemuan di Jenewa, di mana kedua pihak saling menuduh melanggar kesepakatan yang menurunkan tarif dari level yang sangat tinggi.
AS menyatakan kekhawatiran akan kurangnya magnet tanah jarang yang penting untuk kendaraan listrik dan sistem pertahanannya. Sementara China gusar atas pembatasan baru AS terhadap cip kecerdasan buatan Huawei Technologies Co, serta teknologi canggih lainnya dan tindakan keras AS terhadap mahasiswa China.
Setelah berbicara dengan Xi melalui telepon, Trump mengatakan memperoleh komitmen untuk memulihkan aliran magnet tanah jarang. Reuters melaporkan China menyetujui lisensi ekspor sementara untuk pemasok mineral kritis bagi produsen mobil terkemuka AS.
Namun, masih ada pertanyaan, apa yang Trump katakan kepada Xi dalam percakapan mereka, yang sangat diinginkan oleh Presiden AS itu.
Dalam pernyataannya, Kementerian Luar Negeri China mengatakan Trump memberi tahu Xi bahwa mahasiswa China dipersilakan untuk belajar di AS. Trump kemudian mengatakan bahwa akan menjadi "kehormatan" baginya untuk menyambut mereka.
Percakapan antara Trump dan Xi menimbulkan sedikit harapan penurunan tarif antara AS dan China bagi Wall Street, meski optimisme para investor terbatas lantaran kurangnya rincian tentang masalah-masalah utama dan isu-isu pelik yang dihadapi para negosiator.
Keterlibatan Mendag Lutnick dalam fase baru pembicaraan mungkin menandakan bahwa Trump bersedia mempertimbangkan kembali beberapa pembatasan teknologi yang mengancam akan menghambat ambisi pertumbuhan jangka panjang China.
(bbn)



























