Mengacu data bursa yang dikompilasi oleh Bloomberg, sepanjang pekan ini, yang merupakan pekan pertama bulan Juni, asing telah membukukan posisi net sell sebesar US$ 244,1 juta sampai perdagangan 4 Juni.
Dengan kurs JISDOR terakhir Rp16.305/US$, nilai nilai outflows dari pasar saham RI itu mencapai Rp3,98 triliun. Indeks saham, IHSG, pada saat yang sama mencatat pelemahan 1,48%.
Kekhawatiran neraca dagang
Arus keluar modal asing dari pasar saham juga pasar surat utang pada awal Juni ini, terutama karena kekhawatiran akan prospek rupiah ke depan menyusul kenaikan risiko pelebaran defisit transaksi berjalan akibat penyusutan surplus dagang.
Data neraca dagang April yang baru diumumkan pekan ini menunjukkan, nilai surplus dagang ambles ke level terendah lima tahun akibat lonjakan impor yang tak terduga ketika laju ekspor pun lesu akibat kondisi perdagangan global yang makin restriktif.
Penyusutan surplus dagang itu bila berlanjut bisa membawa defisit transaksi berjalan tahun ini melebar melampaui 1% dari Produk Domestik Bruto, seperti dihitung oleh analis Mega Capital.
Memang, ada harapan bahwa lonjakan impor itu hanya tren sesaat menyusul langkah frontloading para importir ketika kebijakan tarif AS diumumkan pada April lalu.
Bila kenaikan tajam impor tersebut hanya tren sesaat, surplus dagang RI diperkirakan akan pulih dalam beberapa bulan. Hal itu bisa memberi dukungan stabilitas rupiah di kisaran Rp16.100-Rp16.500/US$.
Sebaliknya, bila tren lonjakan impor itu berlanjut, ada potensi pelebaran defisit transaksi berjalan untuk tahun fiskal 2025 menjadi lebih dari 1% dari PDB dan menimbulkan tekanan depresiasi kuat pada rupiah hingga ke kisaran Rp16.500-Rp16.900/US$ atau lebih tinggi.
Kelesuan ekonomi
Pasar juga mencermati prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini yang terancam makin nyungsep, terhempas efek perang dagang.
Terbaru, Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) memangkas proyeksi ekonomi Indonesia menjadi hanya tumbuh 4,7% pada 2025, makin rendah ketimbang perkiraan sebelumnya 4,9%.
Upaya Pemerintah RI menstimulasi perekonomian melalui pengucuran paket insentif, juga akan jadi perhatian karena penghitungan terhadap kekuatan anggaran juga dicermati oleh para investor.
OECD memperkirakan defisit anggaran Indonesia akan menjadi 2,8% terhadap PDB pada 2025. Angka itu membengkak dibandingkan dengan 2,3% pada 2024. Perluasan program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk anak sekolah dan ibu hamil, pembentukan dana kekayaan negara baru BPI Danantara, dan hilangnya pendapatan akibat diskon tarif listrik pada awal 2025 akan memberikan tekanan tambahan sekitar 1,6% terhadap PDB pada defisit anggaran.
Sementara langkah efisiensi anggaran menyeluruh sebesar 1,3% terhadap PDB dinilai menjadi langkah mitigasi pemerintah untuk mempertahankan defisit anggaran pada batas maksimum 3%, sesuai amanat Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara.
Ekonom berharap, setelah pengucuran stimulus senilai Rp24,4 triliun, pemerintah menggenjot belanja yang sempat tertunda di awal tahun akibat realokasi anggaran.
Belanja pemerintah yang kembali digeber bisa membantu pertumbuhan dan penciptaan lapangan kerja di sektor-sektor yang sebelumnya terdampak seperti konstruksi, perhotelan dan perdagangan.
Ketika kecepatan belanja pemerintah kembali sesuai harapan, hal itu menurutnya bisa mengubah persepsi penting pada para pelaku ekonomi.
Greget belanja pemerintah akan menjadi sinyal penting bagi pasar. Saat ini, minat investor baik asing maupun lokal sudah tinggi untuk Indonesia dan pelaku pasar menunggu gebrakan lebih baik dari pemerintah.
"Siaran pers APBN Kita selanjutnya sudah harus menunjukkan belanja pemerintah yang menguat," kata Chief Economist Trimegah Sekuritas Fakhrul Fulvian.
Ketika ekspektasi perbaikan terpenuhi, arus modal asing akan kembali membesar ke Indonesia di tengah guncangan global yang masih membayangi.
"Dengan adanya perbaikan ekonomi, seharusnya rupiah bisa terus menguat ke bawah Rp16.000/US$ dan IHSG menguat ke level 7.750. Eksekusi belanja pemerintah yang transparan dan tepat sasaran sangat ditunggu," kata Fakhrul.
(rui)


























