Rizal menggarisbawahi penurunan harga cenderung terjadi pada sektor-sektor kebutuhan pokok seperti pangan, yang memang bisa dipengaruhi faktor musiman pasca-Idulfitri. Namun, bila tekanan harga ini terus terjadi pada bulan-bulan berikutnya, maka artinya ada masalah pada sisi permintaan, bukan semata pasokan.
Menurut Rizal, pelemahan daya beli bisa berasal dari beberapa faktor, misalnya kenaikan harga pada periode sebelumnya yang belum sepenuhnya direspons oleh kenaikan pendapatan, penyesuaian konsumsi karena suku bunga kredit konsumtif masih tinggi, hingga ketidakpastian ekonomi yang membuat rumah tangga cenderung menahan belanja.
“Ini jadi tantangan buat pemerintah dan Bank Indonesia. Kalau deflasi berlangsung berlarut, maka risiko stagnasi ekonomi meningkat. Stimulus fiskal perlu diarahkan lebih tajam untuk dorong konsumsi, sementara dari sisi moneter, ruang penurunan suku bunga bisa mulai dipertimbangkan jika tekanan inflasi terus melandai,” ujarnya.
Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan indeks harga konsumen (IHK) yang mengalami deflasi 0,37% secara bulanan (month-to-month/mtm) pada Mei 2025 tidak serta-merta mencerminkan daya beli yang lesu.
Menurut dia, komponen inti (core inflation) yang masih mengalami inflasi secara tahunan (year-on-year/yoy) sebesar 2,4% pada Mei 2025 menandakan terdapat kenaikan harga karena adanya permintaan.
“Jadi kita pasti melihat dari komponen deflasi dari Badan Pusat Statistik [BPS] kalau inflasi intinya, masih di sekitar 2% berarti ada kenaikan harga karena ada permintaan karena core inflation adalah berasal dari kenaikan harga akibat daya beli atau permintaan,” ujar Sri Mulyani saat ditemui di Kompleks Istana Kepresidenan, dikutip Selasa (3/6/2025).
Selain itu, Sri Mulyani mengatakan, bila dilihat berdasarkan komponen, maka kebijakan pemerintah seperti diskon tarif transportasi yang diterapkan pada Juni-Juli 2025 nantinya akan menimbulkan deflasi. Namun, hal tersebut bukan menandakan daya beli turun, melainkan karena pemerintah melakukan intervensi melalui harga yang diatur (administered price).
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan indeks harga konsumen (IHK) pada Mei 2025 mengalami deflasi 0,37% atau lebih dalam dibanding proyeksi konsensus yang sebesar 0,17%.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Pudji Ismartini menyebutkan terjadi penurunan IHK dari 108,47 pada April 2025 menjadi 108,07 pada Mei 2025.
"Secara tahunan, inflasi 1,6% dan secara tahun berjalan inflasi 1,19%. Tingkat inflasi Mei lebih dalam dibandingkan Mei 2024," ujar Pudji dalam Konferensi Pers, Senin (2/6/2025).
Kelompok pengeluaran penyumbang deflasi terbesar antara lain: Makanan minuman dan tembakau, dengan deflasi 1,4%, dan memberikan andil deflasi 0,41%. Komoditas dominan mendorong deflasi adalah kelompok cabai merah dan cabai rawit dengan masing-masing memberi andil deflasi 0,12%.
Komoditas lain yang memberikan andil deflasi antara lain, bawang merah, dengan andil deflasi 0,09%, ikan segar andil deflasi 0,05%, bawang putih dengan andil deflasi 0,04% dan daging ayam ras andil deflasi 0,01%.
(ain)































