Logo Bloomberg Technoz

Melihat ke belakang, rupiah hampir selalu melemah setiap bulan Mei dalam 10 tahun terakhir. Hanya pada Mei tahun ini penguatannya hampir 2% setelah pada Mei tahun lalu hanya menguat tipis.

Performa rupiah yang nyaris selalu ambruk pada bulan kelima saban tahun, berhubungan dengan pola musiman permintaan dolar di pasar.

Rupiah menguat 1,91% selama Mei menjadi torehan kinerja yang langka secara historis (Riset Bloomberg Technoz)

Bulan Mei, Juni hingga Juli, biasanya jadi musim pembayaran dividen korporasi, yang bersamaan dengan peningkatan permintaan valas yang meningkat saat musim haji datang, juga karena pembayaran utang jatuh tempo Pemerintah RI. Kesemua itu di luar permintaan valas rutin dari BUMN seperti Pertamina dan PLN.

Meski Mei belum berakhir, namun perdagangan di pasar keuangan RI sudah berakhir lebih dulu dan baru akan kembali buka pada awal Juni nanti.

Rupiah diuntungkan oleh tren pelemahan dolar AS di pasar global. Selama Mei ini, indeks dolar AS bergerak cenderung lemah di kisaran 100,12. Indeks DXY sudah tergerus lebih dari 9% sepanjang tahun ini.

Meski pada perdagangan Kamis siang ini, DXY kembali bangkit di kisaran 100 akibat sentimen tarif Presiden AS Donald Trump.

Bila menghitung sepanjang tahun, penguatan selama Mei masih belum memampukan rupiah menghapus pelemahan tahun ini. Rupiah masih mencatat penurunan nilai 1,15% year-to-date, menjadikannya valuta Asia dengan kinerja terburuk tahun ini ditemani oleh dolar Hong Kong yang melemah 0,89% pada periode yang sama.

Didukung modal asing

Penguatan rupiah selama Mei kebanyakan memang dipengaruhi oleh sentimen pasar global. Gelombang 'Sell America' yang sempat melanda pasar membuat pamor dolar AS jatuh ke titik rendah dan menguntungkan mata uang yang jadi lawannya, termasuk rupiah.

Arus modal global juga deras menyerbu lagi aset-aset di emerging market. Pasar Indonesia juga kecipratan berkah. 

Mengacu data Bloomberg, dana asing masuk sebesar US$ 337,1 juta ke pasar saham selama Mei ini, sampai perdagangan terakhir kemarin 28 Mei. Nilai itu setara dengan Rp5,5 triliun.

Sedangkan di pasar surat utang negara, asing mencetak net buy selama Mei, sampai data terakhir per 26 Mei, sebesar US$ 1,49 miliar, setara dengan Rp24,42 triliun.

Animo asing yang membaik di pasar keuangan domestik setelah banyak hengkang pada bulan-bulan sebelumnya, terutama di pasar saham, membuat rupiah lebih stabil.

Transaksi berjalan, defisit fiskal

Rupiah juga mendapatkan dukungan dari perbaikan neraca transaksi berjalan. Pada kuartal 1-2025, defisit transaksi berjalan RI mengecil, yakni sebesar US$ 177 juta, setara dengan 0,1% dari Produk Domestik Bruto.

Angka defisit itu jauh lebih kecil dibanding kuartal sebelumnya sebesar US$ 1,12 miliar kendati lebih besar ketimbang prediksi pasar yang memperkirakan hanya ada defisit US$ 132 juta.

Penurunan nilai defisit transaksi berjalan itu mengurangi kerentanan perekonomian dan meningkatkan kepercayaan investor. 

Di tengah tren dolar AS yang melemah di pasar global yang mendorong global fund mencari alternatif, pasar negara berkembang dengan kondisi fundamental yang membaik seperti Indonesia, terindikasi dari penyempitan defisit transaksi berjalan, memiliki posisi yang baik untuk menguat.

Di sisi lain, meski tiga bulan pertama tahun ini keuangan negara defisit, realisasi APBN pada April yang mencetak surplus kecil di tengah penerimaan negara yang makin merosot hingga double digit, memberi sinyal pada pasar bahwa Pemerintah RI serius menjaga komitmen disiplin fiskal di tengah begitu banyak program belanja yang akan digeber tahun ini.

Selain itu, suplai valas di pasar juga mendapatkan dukungan dari penerbitan samurai bond pekan lalu oleh Pemerintah RI senilai JPY 103,2 miliar.

Utang jatuh tempo

Hanya, capaian positif kinerja rupiah pada Mei mungkin masih rentan memasuki bulan Juni. Kinerja rupiah setiap bulan Juni selama ini selalu melemah dalam empat tahun terakhir dengan pelemahan bisa lebih dari 2%.

Itu karena adanya peningkatan permintaan dolar musiman di pasar menyusul adanya utang luar negeri jatuh tempo pemerintah dan pembayaran dividen korporasi pada para investor asing.

Pada Juni, terdapat nilai utang jatuh tempo pemerintah senilai Rp178,9 triliun yang menjadi nilai tertinggi pembayaran utang sepanjang tahun 2025.

Sepanjang tahun ini, nilai utang jatuh tempo Pemerintah RI mencapai Rp800 triliun dengan puncak pembayaran terjadi pada bulan depan.

Di sisi lain, jadwal pembayaran dividen korporasi juga akan menguras dolar di pasar dan rentan menyeret rupiah. Faktor musiman itu, bila ditambah gejolak pasar yang menaikkan lagi dominasi dolar AS di pasar global, bisa jadi kabar buruk bagi rupiah ke depan.

(rui)

No more pages