Lebih lanjut, Eduart menjelaskan bahwa modus terbaru yang digunakan para pelaku adalah dengan memanfaatkan rekayasa teknologi Artificial Intelligence (AI).
“Kalau modus yang paling baru itu kan dengan menggunakan rekayasa AI, dengan mengkamuflase dari mulai kartu peserta dan sebagainya,” jelas Eduart.
Namun, panitia SNPMB telah menyiapkan langkah-langkah mitigasi, salah satunya melalui sistem keamanan barcode pada kartu peserta.
“Jadi misalnya ada peserta yang mengklaim pada kartunya bahwasannya dia ujian di pusat UTBK A. Tapi dari kode pada barcode dan nomor kami ketahui bahwa ia justru berada di pusat lain. Jadi ini bentuk-bentuk dari standar operasional kita untuk melakukan mitigasi terhadap kecurangan,” kata Eduart.
Ia menegaskan, tidak semua kasus kecurangan harus langsung dilaporkan ke aparat penegak hukum. Penanganannya akan disesuaikan dengan konteks dan motif pelanggaran.
“Itu akan kami pertimbangkan lebih lanjut. Kalau sifatnya personal, misalnya peserta kedapatan membawa handphone ke ruang ujian, biasanya langsung kami diskualifikasi,” ujarnya.
“Kita kayak nggak mau mematikan masa depan anak, siapa tahu motif ini bukan berdiri karena sendirinya, dan tetap harus kita tinjau,” pungkas Eduart.
(dec/del)































