Logo Bloomberg Technoz

Berbagai figur telah memberi peringatan seperti apa dampaknya jika debt ceiling gagal disepakati. “Seluruh dunia akan dalam masalah,” tegas Presiden AS Joe Biden.

“Berpotensi menimbulkan bencana,” begitu pula kata Jamie Dimon, CEO JPMorgan Chase & Co. 

Obligasi rupiah diuntungkan

Akan tetapi, berkaca dari sejarah kemelut debt ceiling di masa lampau yang juga menghebohkan, yaitu pada 2011 dan 2013 ketika isu tersebut menuai kericuhan di pasar keuangan, obligasi rupiah justru keluar sebagai sanctuary alias tempat investasi yang menguntungkan bagi para pemodal global.

Berdasarkan analisis Bloomberg, obligasi rupiah mencatat kinerja mengesankan di tengah volatilitas pasar obligasi global pada 2011 dan 2013 silam. Performa obligasi rupiah bahkan mengungguli kinerja obligasi pemerintah AS yang selama ini dinilai sebagai aset kelas dunia. US Treasury justru mencatat kinerja lebih buruk pada periode-periode tersebut.

Berdasarkan data Bloomberg, obligasi rupiah mengungguli performa obligasi negara Asia dalam kelompok emerging market, juga US Treasury dalam tiga periode selama volatilitas pasar meningkat akibat isu debt ceiling. Itu termasuk tiga bulan hingga April 2011, ketika S&P Global Rating memangkas outlook surat utang pemerintah AS dari skor tertinggi.

Obligasi rupiah memberikan imbal hasil 15% pada periode-periode tersebut, melampaui return US Treasury sebesar 4%, berdasarkan data yang dikompilasi oleh Bloomberg.

Hal yang sama juga terjadi saat Agustus 2011, ketika S&P pertama kali menurunkan rating US Treasury dari singgasana AAA dan pada 2013 ketika pembicaraan seputar anggaran utang memberati sepanjang tahun itu.

Obligasi rupiah mencatat return 8% selama tiga periode tersebut, tertinggi dibandingkan obligasi negara emerging market di Asia lain dan melampaui return US Treasury yang tercatat 3% pada periode yang sama.

Sejauh ini, sepanjang 2023, obligasi rupiah telah memberikan keuntungan 10% bagi pemodal asing, menjadikannya sebagai obligasi terbaik di emerging market Asia. 

Emas jadi tempat berlindung

Adapun bagi investor, emas juga menjadi tempat berlindung. Logam mulia sejauh ini adalah pilihan utama bagi mereka yang mencari tempat aman jika pembahasan debt ceiling di Washington gagal. Demikian terlihat dari hasil survei yang dilakukan Markets Live Pulse dari Bloomberg pada 8-12 Mei.

Lebih dari separuh responden menyebut akan membeli emas jika pemerintah AS gagal memenuhi kewajibannya.

Lebih mengejutkan lagi, pilihan kedua investor adalah obligasi pemerintah AS, berdasarkan survei yang diikuti 637 responden tersebut. Ironis, karena ini adalah aset yang mengalami default.

Namun perlu dicatat bahwa analis yang paling pesimistis pun akan memperkirakan kupon obligasi akan dibayar, hanya agak terlambat. 

Mata uang aman tradisional seperti yen Jepang dan franc Swiss juga menjadi opsi, tetapi tidak lebih populer dari dolar AS. Ada pula yang memilih Bitcoin, yang oleh sebagian orang dipandang sebagai emas digital.

(bbn/ggq)

No more pages