Logo Bloomberg Technoz

Pelemahan dolar AS memperkuat otot rupiah di pasar forward offshore. Kontrak NDF rupiah ditutup menguat 0,16% di bursa New York dini hari tadi di level Rp16.428/US$. Pagi ini, rupiah NDF makin menguat di Rp16.419/US$. 

Level itu hanya selisih sedikit dengan posisi penutupan rupiah spot kemarin di Rp16.415/US$. Hal itu mengisyaratkan gerak rupiah akan cenderung sempit hari ini.

Pada perdagangan spot valas Asia pagi ini, mayoritas mata uang melesat mengalahkan dolar AS. Baht Thailand bahkan menguat hingga 0,82% pagi ini, bersama won, ringgit, yen, dolar Taiwan, dolar Singapura juga peso Filipina. Hanya dolar Hong Kong yang masih tergerus tipis oleh the greenback.

Sentimen pasar masih melanjutkan tren 'Sell America' di mana yield US Treasury pagi ini melanjutkan kenaikan terutama tenor panjang. Yield 10Y terpangkas 4,2 bps kini di 4,489%. Sementara tenor 20Y menyentuh 5,000%, naik 6,9 bps dan tenor 30Y naik 7,4 bps jadi 4,977%. Sedangkan tenor pendek 2Y terpangkas 1,2 bps jadi 3,964%.

Ekspektasi BI rate

Selain faktor global, pergerakan rupiah akan terdampak ekspektasi pasar akan kebijakan bunga acuan Bank Indonesia.

Pasar masih bertaruh BI akan memangkas bunga acuan, hingga memberi energi pada lonjakan penawaran dalam lelang Surat Utang Negara kemarin.

Nilai incoming bids lelang SUN kemarin menembus rekor tertinggi sejak Agustus 2021, mencapai Rp108 triliun, dipanaskan oleh ekspektasi investor yang membesar akan pemangkasan bunga acuan.

Sementara di pasar saham, reli kenaikan indeks terhenti dengan langkah asing memperkecil belanja.

Investor asing membukukan net sell tipis hari ini sebesar US$ 24,7 juta, sekitar Rp406,19 miliar, setelah empat hari perdagangan terakhir membukukan net buy senilai total Rp5,4 triliun.

Konsensus pasar yang dihimpun oleh Bloomberg dari survei terhadap 35 ekonom, sejauh ini masih menghasilkan angka median 5,50%.

Namun, konsensus itu tidak bulat. Sebanyak 13 ekonom dari 35 yang mengeluarkan prediksi, memperkirakan BI akan kembali menahan suku bunga acuan untuk kali ketiga, di tengah ketidakpastian global yang dinilai masih besar.

Kajian yang dilansir LPEM Universitas Indonesia juga memperkirakan BI rate kemungkinan masih ditahan lagi pada RDG kali ini.

"Inflasi dan stabilitas rupiah baru-baru ini menunjukkan adanya ruang untuk pelonggaran moneter. Namun, masih belum jelas apakah stabilitas ini akan berkelanjutan. Mengingat masih ada risiko eksternal, BI perlu mempertahankan BI rate di 5,75% dan tetap berhati-hati sampai kondisi global menjadi lebih dapat diprediksi," kata Ekonom LPEM UI Teuku Riefky.

Sebaliknya, Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian menilai, urgensi meningkatkan pertumbuhan ekonomi justru kian besar di tengah prospek perekonomian global yang suram akibat perang dagang.

"BI rate kemungkinan akan diturunkan jadi 5,50% dengan bank sentral memanfaatkan penguatan rupiah belakangan dan gencatan tarif dagang Tiongkok-AS. Pertumbuhan ekonomi yang berlanjut melemah pada kuartal 1-2025 akibat lesunya investasi dan konsumsi rumah tangga bahkan sebelum terjadi guncangan akibat tarif resiprokal pada April. Rupiah sudah menguat dengan kinerja melampaui mata uang Asia lain," tambah Ekonom Bloomberg Economics Tamara Mast Henderson.

(rui)

No more pages