Salah satu yang dilirik adalah kemungkinan Indonesia untuk berinvestasi di sektor migas AS, lantaran RI sendiri juga tengah membutuhkan tambahan pasokan minyak untuk kebutuhan di dalam negeri.
“Karena kan salah satu yang kita coba terus dorong adalah produksi minyak di dalam negeri terus ditingkatkan. Akan tetapi, secara bersamaan, [pemerintah juga menimbang] investasi seperti apa yang ada kesempatannya di luar negeri, di AS khususnya,” kata Erick.
Dia pun mengindikasikan Indonesia tidak akan kesulitan memenuhi peluang tersebut lantaran perusahaan-perusahaan nasional sudah memiliki banyak portofolio investasi di beberapa negara lain.
Ikuti Thailand
Manuver membidik investasi migas untuk meredam tarif AS sebelumnya sudah terlebih dahulu dilakukan oleh Thailand.
Negeri Gajah Putih awal bulan ini menyatakan tertarik untuk ikut mengembangkan proyek jaringan pipa gas besar-besaran di Alaska yang didukung oleh Trump, saat negara Asia Tenggara itu menjajaki cara untuk memangkas surplus perdagangan senilai US$46 miliar dengan AS sebelum negosiasi tarif.
Para pejabat Thailand membahas potensi keterlibatan Bangkok dalam proyek Alaska senilai US$44 miliar — jaringan pipa yang telah lama tertunda yang akan membentang melintasi negara bagian itu — melalui investasi dalam eksplorasi dan produksi gas serta infrastruktur terkait dengan para pejabat proyek, kata Kementerian Energi dalam sebuah pernyataan pada Kamis (8/5/2025).
Thailand juga terbuka untuk menandatangani kontrak jangka panjang untuk mengimpor sekitar 3 hingga 5 juta ton gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) dari Alaska setiap tahun, tambah kementerian itu.
Dukungan Trump untuk proyek Alaska telah membuat pembeli LNG Asia seperti Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan menyatakan minatnya untuk bergabung dengan para pengembang migas AS.
Ketertarikan Thailand pada usaha patungan Alaska dipandang sebagai bagian dari upaya untuk meningkatkan investasi di AS guna menangkal rencana pemerintahan Trump untuk mengenakan tarif tinggi sebesar 36% pada ekspor negara tersebut.
Bangkok, yang tengah bersiap untuk memulai negosiasi dengan Washington, telah mengidentifikasi gas alam, bahan baku petrokimia, dan komoditas pertanian sebagai produk AS yang akan lebih banyak diimpornya guna membantu mengurangi kesenjangan perdagangan.
Kepemilikan saham di proyek Alaska juga akan membantu Thailand sebagai importir energi bersih untuk mengamankan pasokan terjamin di tengah menipisnya cadangan gas di Teluk Thailand.
Terlebih, penurunan produksi lokal telah mendorong negara tersebut untuk meningkatkan impor LNG dalam beberapa tahun terakhir.
Bagaimanapun, proyek Alaska menghadapi rintangan besar, dan belum mengamankan investasi mengikat atau perjanjian pembelian apa pun meskipun ada beberapa minat dari pemerintah negara-negara di Asia yang mencari cara untuk menangkal ancaman tarif Trump.
Proyek ini telah diusulkan dalam berbagai bentuk selama beberapa dekade. Tidak seperti fasilitas serupa di Pantai Teluk AS, proyek ini akan berskala besar, yang membutuhkan pembangunan jaringan pipa yang membentang sejauh 800 mil (1.287 kilometer).
(wdh)



























