Rusia juga mencatat permintaan Ukraina untuk mengadakan pertemuan langsung antara presiden kedua negara, ujar Medinsky.
Sementara itu, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy melakukan panggilan telepon bersama Presiden AS Donald Trump, Presiden Prancis Emmanuel Macron, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer, Kanselir Jerman Friedrich Merz, dan Perdana Menteri Polandia Donald Tusk. Juru bicara Zelenskiy mengatakan bahwa rincian pembicaraan akan disampaikan kemudian.
Dalam pertemuan puncak Komunitas Politik Eropa di Albania—yang mempertemukan keempat pemimpin Eropa—Presiden Macron mengisyaratkan bahwa Uni Eropa tengah menyiapkan sanksi baru bekerja sama dengan pemerintahan Trump. Trump disebut akan "memastikan" perkembangan terbaru di Istanbul sebelum langkah berikutnya diambil.
"Kami terus menyiapkan sanksi baru bersama AS," ujar Macron kepada awak media di Tirana. "Jika tidak ada respons positif mengenai gencatan senjata, maka sanksi akan diberlakukan."
‘Sangat Kecewa’
Ukraina dan negara-negara Eropa sebelumnya menuntut Presiden Vladimir Putin untuk menyetujui gencatan senjata tanpa syarat selama 30 hari, guna memberi ruang bagi perundingan damai. Namun Putin menolak dan justru menawarkan untuk melanjutkan dialog langsung dengan Ukraina di Turki.
“Kami sangat kecewa,” kata Kanselir Merz mengenai hasil pembicaraan di Istanbul. “Bola sepenuhnya berada di pihak Rusia, namun Putin gagal memanfaatkan kesempatan untuk membahas kesepakatan damai,” tambahnya.
“Setelah pertemuan dengan Presiden Zelenskiy dan diskusi bersama Presiden Trump, kami kini tengah menyelaraskan respons kami secara lebih terkoordinasi,” ujar PM Inggris Starmer.
Dalam pembicaraan tersebut, Rusia disebut mengajukan tuntutan untuk menguasai penuh lima wilayah Ukraina. Kedua delegasi menggunakan penerjemah dalam negosiasi tersebut, menurut sumber yang mengetahui isi pertemuan.
“Kami mencurahkan upaya besar untuk mengakhiri perang,” ujar Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan di awal pertemuan. Ia menambahkan, "Pertemuan ini diharapkan bisa menjadi dasar pertemuan antara para pemimpin Ukraina dan Rusia."
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio sebelumnya mengatakan, peluang kemajuan akan tetap kecil jika belum ada pertemuan langsung antara Trump dan Putin.
Putin sendiri menganggap dialog ini sebagai kelanjutan dari perundingan Istanbul pada 2022, tak lama setelah invasi skala penuh Rusia ke Ukraina dimulai. Medinsky juga menjadi ketua negosiator Rusia dalam pertemuan tersebut, yang akhirnya gagal karena perbedaan tajam atas protokol rancangan Rusia, yang belakangan diklaim Putin telah disetujui Ukraina—klaim yang dibantah keras oleh Kyiv.
Dalam pertemuan ini, Rusia kembali menuntut pengakuan atas kendali empat wilayah di timur dan tenggara Ukraina yang belum sepenuhnya dikuasainya, serta pengakuan atas Krimea—wilayah yang dianeksasi Rusia dari Ukraina pada 2014—sebagai bagian dari kedaulatan Rusia, menurut sumber yang terlibat.
Di saat yang sama, Rusia terus melancarkan serangan udara ke seluruh Ukraina. Lebih dari 110 drone diluncurkan sepanjang malam, menurut komando pertahanan udara Ukraina. Ibukota Kyiv dan wilayah Odesa turut menjadi sasaran. Setidaknya tiga orang dilaporkan terluka, kata Kepala Administrasi Militer Odesa, Oleh Kiper, melalui Telegram.
Berbicara di depan para pemimpin Eropa di Tirana, Zelenskiy mengatakan penting untuk "secara jelas menetapkan isu-isu yang harus dibahas langsung di tingkat kepala negara — bukan di bawahnya," sambil menegaskan, “kita semua tahu siapa yang sebenarnya mengambil keputusan di Rusia.”
Tim negosiator Rusia tetap berkoordinasi langsung dengan Presiden Putin, yang menerima laporan secara real time, kata juru bicara Kremlin Dmitry Peskov, seperti dikutip Interfax pada Jumat.
Trump mengatakan kepada awak media bahwa ia siap bertemu Putin “secepat mungkin bisa dijadwalkan,” usai menyelesaikan kunjungannya ke Timur Tengah. Ia juga menyampaikan kesediaannya untuk datang ke Turki pada Jumat “jika ada perkembangan penting.”
Sehari sebelumnya, Trump mengatakan bahwa "takkan ada kemajuan" dalam penyelesaian konflik sampai ia bertemu langsung dengan Putin.
Kepala Staf Kepresidenan Ukraina, Andriy Yermak, menyatakan bahwa delegasi Ukraina telah "menyelaraskan posisi" dengan utusan presiden AS, Keith Kellogg, serta penasihat keamanan nasional Prancis, Jerman, dan Inggris sebelum memulai pertemuan dengan Rusia.
Rubio, yang juga hadir di Istanbul, mengadakan pertemuan dengan para penasihat keamanan dari Prancis, Inggris, dan Jerman untuk membahas invasi Rusia yang masih berlanjut. Meskipun tidak ikut dalam negosiasi langsung antara Rusia dan Ukraina, Rubio telah lebih dulu bertemu dengan menteri luar negeri Ukraina dan Turki.
“Saya terus terang tidak yakin akan ada terobosan apa pun sebelum Presiden Trump duduk langsung dengan Presiden Putin dan memastikan seperti apa niat Rusia ke depannya,” kata Rubio kepada wartawan di Antalya, Turki, usai pertemuan para menteri luar negeri NATO, Kamis lalu.
Hingga kini, Moskow masih menolak usulan gencatan senjata dari AS yang mencakup pembekuan konflik di garis depan saat ini, pengakuan Krimea sebagai wilayah Rusia, serta pencabutan sanksi oleh AS. Sebagai imbalannya, Ukraina akan memperoleh jaminan keamanan yang kuat dan hak penuh untuk membangun angkatan bersenjata sendiri, seperti dilaporkan Bloomberg.
AS dikabarkan menambahkan beberapa poin baru dalam usulan tersebut, termasuk pembukaan kembali dialog keamanan di bawah Dewan NATO-Rusia, menurut sumber anonim yang mengetahui isi negosiasi. Forum kerja sama ini praktis dibekukan sejak invasi besar-besaran Rusia pada 2022.
Di sisi lain, Putin tampaknya belum menunjukkan minat untuk berkompromi. Pasukannya masih mencatat kemajuan perlahan dalam perang yang makin bersifat "adu kekuatan habis-habisan", sementara Ukraina menghadapi kekurangan amunisi dan kesulitan dalam memenuhi kuota perekrutan militer, menyusul tertundanya bantuan tambahan dari pemerintahan Trump.
(bbn)































