Logo Bloomberg Technoz

“Ini bukan hanya untuk PLN, tetapi juga untuk partner-partner kami,” tuturnya.

Dia beralasan risiko pengembangan panas bumi relatif tetap tinggi kendati pemerintah telah membantu untuk mengurangi beban pada sisi eksplorasi awal.

Menurut dia, eksposur risiko paling besar terdapat pada tahapan pengeboran eksplorasi, saat mengubah potensi sumber daya menjadi cadangan yang teridentifikasi.

“Tingkat suksesnya hanya sekitar 30% sampai 40%, jadi 60%-nya akan gagal,” tuturnya.

Adapun, PLN menargetkan tambahan kapasitas panas bumi sebesar 5,1 gigawatt (GW) dalam draf RUPTL 2025-2034.

Sebagian besar kuota pengembangan panas bumi itu bakal dikerjakan oleh pengembang swasta atau Independent Power Producer (IPP).

Rencanannya, PLN bakal mengerjakan tambahan kapasitas setrum 585 megawatt (MW) atau 11% dari porsi pengembangan panas bumi yang tertuang pada RUPTL baru.

Sementara itu, IPP mendapat alokasi sebesar 4,57 GW atau 89% dari keseluruhan rencana pengembangan.

Seperti diketahui, Indonesia memiliki potensi energi panas bumi terbesar kedua di dunia, yaitu mencapai 23,6 GW, setelah Amerika Serikat. Dengan kapasitas terpasang 2,3 GW, Indonesia turut menempati peringkat kedua dalam pemanfaatan secara global.

Hanya saja, pembangunan pembangkit listrik tenaga panas bumi atau PLTP membutuhkan waktu sekitar 6 tahun sampai 13 tahun dengan investasi 4 sampai 5 kali lebih besar dibandingkan pembangkit gas.

Dengan demikian, PLN bersama mitra IPP mesti membangun PLTP saat ini untuk bisa beroperasi komersial pada 2034 mendatang.

Draf RUPTL Diteken

Dirjen EBTKE Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi membeberkan draf RUPTL PLN telah diparaf tiga menteri teknis.

Persetujuan tertulis tiga menteri teknis itu berasal dari Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir dan Menteri Keuangan Sri Mulyani.

“RUPTL yang ke depan ini sudah ditandatangani 3 menteri,” kata Eniya saat  konferensi pers 11th Indonesia International Geothermal Convention and Exhibition (IIGCE) 2025, Senin (14/4/2025).

Eniya berharap persetujuan 3 menteri itu dapat mempercepat pengesahan dokumen rencana penyediaan listrik dari PLN nantinya.

Draf RUPTL itu bakal menjadi pedoman investasi PLN untuk jangka waktu 2025 sampai dengan 2034 mendatang.

“Insyallah [draf RUPTL] dalam satu bulan ini pasti sudah akan goal ya, tinggal sedikit lagi dan itu hanya perlu finalisasi saja,” kata Eniya.

Berdasarkan figur indikatif yang disampaikan PLN dalam Mandiri Investment Forum Selasa (11/2/2025), perusahaan setrum pelat merah itu berencana menambah kapasitas pembangkit energi baru terbarukan (EBT) sekitar 102 GW sampai 2040.

Sepanjang periode 2025 sampai dengan 2040, PLN menargetkan tambahan sekitar 75 GW pembangkit EBT, dengan rincian pembangkit hidro atau air sebesar 25 GW, solar sebesar 27 GW, angin mencapai 15 GW, panas bumi sebesar 7 GW dan bioenergi sekitar 1 GW. 

Pada periode itu, PLN turut memasukkan pembangkit nuklir dengan kapasitas 5 GW dan gas sebesar 22 GW. 

PLN telah memetakan kebutuhan pembangunan jaringan transmisi sepanjang lebih dari 63.000 kilometer hingga 2040.

(naw)

No more pages