Logo Bloomberg Technoz

Rudal-rudal tersebut menyoroti ancaman yang ditimbulkan Korut terhadap negara-negara tetangganya karena kekhawatiran meningkat atas hubungan militer Pyongyang dan Rusia yang semakin erat.

Pertemuan Presiden Korea Utara Kim Jong Un dengan Presiden Rusia Vladimir Putin. Fotografer: Andrey Rudakov/Bloomberg

Awal bulan ini, Korut dan Rusia mengonfirmasi untuk pertama kalinya bahwa Pyongyang mengirimkan pasukan untuk membantu perang Presiden Vladimir Putin di Ukraina. Namun, keduanya membantah adanya perdagangan senjata secara ilegal.

Hwasong-11 merupakan varian rudal jarak pendek yang juga dikenal sebagai KN-23 atau KN-24, yang menurut Ukraina dipasok Pyongyang ke Moskow dalam perangnya melawan Kyiv.

Media pemerintah Korut juga mengatakan bahwa rudal-rudal tersebut sedang diproduksi secara massal untuk ditempatkan di unit garis depan.

Uji coba terbaru ini menggarisbawahi ambisi Korut untuk mengembangkan senjatanya. Kim sebelumnya berjanji akan meningkatkan persenjataan nuklir negaranya "tanpa batas" untuk melawan ancaman yang ditimbulkan atas kerja sama keamanan antara AS dan sekutunya di kawasan itu.

Korsel mengutuk latihan itu dan memperingatkan Korut agar tidak memprovokasi lebih lanjut menjelang Pilpres pada 3 Juni mendatang.

Kamis (8/5/2025), Capres terkuat Lee Jae-myung dari Partai Demokrat, oposisi utama pemerintah Korsel, mengkritik uji coba tersebut "jelas salah perhitungan," tetapi menyerukan dimulainya kembali dialog antar-Korea dan juga pembicaraan antara Washington dan Pyongyang.

Pemimpin partai oposisi Korsel, Partai Demokratik Lee Jae-myung. (Bloomberg)

Korut mengecam latihan militer gabungan antara Korsel dan AS sebagai latihan untuk perang nuklir. Dua negara sekutu itu mengadakan latihan militer "Iron Mace" bulan lalu di Seoul. Tujuannya, untuk memperkuat daya tangkal AS, termasuk bagaimana mengeksekusi rencana bersama dukungan konvensional Korsel terhadap operasi strategis AS dalam keadaan darurat.

Kim secara teratur menggunakan peluncuran rudal dan momen lain untuk memamerkan kekuatan militer Pyongyang yang terus meningkat.

Saat mengunjungi pabrik amunisi pekan ini, KCNA melaporkan, Kim mengatakan produksi peluru di pabrik tersebut meningkat lebih dari empat kali dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya dan meminta agar produksi terus ditingkatkan.

Uji coba rudal balistik terbaru Pyongyang merupakan yang pertama dalam dua bulan terakhir, terjadi hanya beberapa hari setelah Kim mengunjungi beberapa pabrik senjata dan berjanji akan menaikkan produksi senjata. Hal ini memperkuat tanda-tanda bahwa industrialisasi militer menjadi bagian inti dari strategi ekonomi negara tersebut.

(bbn)

No more pages