Hal itu terindikasi dari data Badan Pusat Statistik (BPS) pada kuartal I-2025 yang memperlihatkan penurunan nilai ekspor batu bara sebesar 17,83% year on year (yoy) menjadi US$6,22 miliar. Periode yang sama, volume ekspor batu bara juga turun 4,34% yoy menjadi 91,97 juta ton.
Selain akibat persaingan ketat dengan batu bara Rusia di pasar China, Audi menilai kebijakan harga batu bara acuan (HBA) yang diterapkan sebagai harga minimum dalam transaksi ekspor turut memperberat kinerja penjualan batu bara ke China.
“Terlebih, sebelumnya ada penolakan dari China yang lebih memilih indeks harga yang lebih fleksibel,” ujarnya.
Per April 2025, HBA periode kedua ditetapkan sebesar US$120,20/ton untuk kalor 6.322 kcal/kg GAR. Nilai tersebut jauh berada di atas harga batubara global, seperti Newcastle Coal yang sebesar US$97,5 per ton.
HBA Indonesia bahkan jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan harga batu bara Rusia FOB Baltik (6.000 kcal/kg NAR) yang hanya US$63—US$66 per ton dan batubara steam (5.500 kcal/kg) yang hanya US$100 per ton.
“Sehingga hal ini yang mendorong kekhawatiran terjadi penurunan ekspor batu bara Indonesia ke China,” kata Audi.
Persaingan Ketat
Dihubungi terpisah, Plt Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI) Gita Mahyarani membenarkan ekspor batu bara tidak hanya diadang oleh faktor permintaan dari pasar utama—seperti China dan India — yang kian tergerus.
Namun, penambang kini dihadapkan pada persaingan dari Rusia yang makin agresif masuk ke pasar Asia setelah Moskwa dilarang mengekspor ke Eropa. Negeri Beruang Merah disebut kian getol memasok ke China, yang selama ini menjadi pasar andalan batu bara RI.
“Rusia menawarkan harga lebih kompetitif, memperketat persaingan dengan batu bara Indonesia,” ujarnya.
Untuk diketahui, pada Maret, impor batu bara Rusia oleh China naik 6% secara anual menjadi 7,33 juta ton. Namun, China juga menaikkan pembelian batu bara dari pemasok lain seperti Australia dan Mongolia. Adapun, Indonesia masih menjadi penyuplai utama batu bara ke Negeri Panda.
Tidak hanya itu, masalah geopolitik global dan perang tarif Amerika Serikat (AS)-China makin menambah ketidakpastian bagi pasar komoditas batu bara.
“Banyak pembeli menahan diri dan mengambil posisi wait and see terhadap kontrak pembelian baru,” terang Gita.
Hal ini menjadi salah satu alasan di balik turunnya kinerja ekspor batu bara Indonesia pada kuartal I-2025, yang merefleksikan adanya tekanan nyata dari sisi permintaan global dan kompetisi pasar.
Kendati demikian, Gita mengatakan Indonesia masih memiliki celah untuk bisa memacu ekspor ke Asia Selatan dan Asia Tenggara, yang masih membutuhkan batu bara sebagai bagian dari bauran energi mereka.
“Meski tidak bisa sepenuhnya menggantikan porsi ekspor ke China atau India,” kata Gita.
(wdh)





























