Pertama, adanya tren pergeseran penempatan dana dari aset-aset dolar AS ke aset rupiah yang menjadi bagian dari arus global belakangan di mana aset-aset di pasar Amerika makin ditinggalkan.
Itu pula yang akhirnya mengerek nilai rupiah lebih kuat sampai bergerak di bawah level Rp16.500/US$ belakangan.
Kedua, "Adanya kemungkinan yang makin besar akan terjadinya penurunan bunga acuan, BI rate, lebih cepat yaitu pada Mei atau Juni nanti menyusul data pertumbuhan ekonomi kuartal 1-2025 yang lebih rendah ketimbang perkiraan," kata tim analis Mega Capital Sekuritas di antaranya Lionel Priyadi, Muhammad Haikal dan Nanda Rahmawati dalam catatannya, Selasa malam.
Minat yang cukup besar dari pasar dalam lelang SUN akhirnya mendorong Kementerian Keuangan RI memenangkan penawaran masuk lebih besar ketimbang target indikatif. Nilai yang dimenangkan kemarin mencapai Rp30 triliun dari target sebesar Rp26 triliun.
Penerbitan seri tenor 10Y, FR0103 yang mendapat banyak minat, juga dinaikkan menjadi Rp12 triliun dan sebesar Rp7,4 triliun untuk seri FR0104 yang paling favorit.
Dalam hitungan analis, hasil lelang SUN kemarin membawa total nilai pembiayaan (gross issuance) Surat Berharga Negara (SBN) mencapai Rp506,65 triliun. Angka itu setara dengan 37,44% dari target APBN 2025 sebesar Rp1.353,07 triliun.
Yield Turun
Mencermati tingkat imbal hasil yang dimenangkan dalam lelang SUN kemarin, terlihat ada penurunan sesuai dengan tren di pasar sekunder dalam sebulan terakhir.
Sebagai contoh untuk seri favorit FR0104, yield dimenangkan rata-rata di kisaran 6,602%, lebih rendah dibanding lelang sebelumnya pada akhir April dengan yield rata-rata sebesar 6,757%.
Begitu juga seri FR0103 yang pada lelang sebelumnya mencatat yield 6,978%, pada lelang kemarin yield-nya jadi 6,895%. Sementara seri SPN dengan tenor 1Y mencatat yield 6,200% turun dari sebelumnya 6,280%.
Penurunan tingkat imbal hasil tersebut sejalan dengan tren di pasar sekunder sebulan terakhir. Mengacu Bloomberg, SUN tenor 1Y dalam sebulan terakhir sudah tergerus 34,4 basis poin yield-nya. Begitu juga tenor 5Y sudah turun 17,1 bps terakhir menyentuh level 6,571%. Sedangkan dan 10Y juga turun 16,2 bps menyentuh 6,864%.
BI Rate
Harapan terhadap penurunan bunga acuan dalam waktu dekat makin membesar sejurus dengan realisasi pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) pada kuartal 1-2025 yang jauh lebih buruk ketimbang ekspektasi, yakni hanya 4,87% yang menjadi pertumbuhan terendah sejak kuartal III-2021 silam.
BI dinilai memiliki alasan lebih banyak untuk melanjutkan lagi siklus pemangkasan bunga setelah tak terduga memulainya pada Januari lalu. Selain karena alarm pelemahan ekonomi sudah membutuhkan respons kebijakan yang lebih tegas, kinerja rupiah sebulan terakhir sudah cukup membaik.
Rupiah sudah mencetak penguatan 2,06% dalam sebulan ini, sejurus dengan tren penguatan semua mata uang Asia terhadap dolar AS. Pada saat yang sama, inflasi April meski mulai naik lagi tapi kisarannya masih berada di bawah batas tengah proyeksi Bank Indonesia tahun ini.
"Kami memandang dengan kondisi saat ini ada perlambatan ekonomi, inflasi rendah dan rupiah sudah menguat, ruang penurunan BI rate bulan ini sangat terbuka," kata Chief Economist Trimegah Securities Fakhrul Fulvian yang memprediksi akan ada pemangkasan 25 basis poin pada pertemuan Dewan Gubernur BI bulan ini.
Capaian pertumbuhan kuartal satu menjadi alarm peringatan agar para pembuat kebijakan segera bertindak lebih cepat memitigasi supaya efek perang dagang tak makin menekan perekonomian.
"Pemerintah harus perkuat ketahanan domestik menghadapi perang dagang, di mana negara harus hadir menjadi shock absorber sehingga konsumsi masyarakat bertahan, industri kuat," menurut Fakhrul.
(rui/aji)



























