“Jika dalam waktu dekat kita mendengar serangkaian pengumuman bahwa kesepakatan dagang tercapai, maka optimisme akan meningkat, dan The Fed kemungkinan akan segera memangkas suku bunga,” papar Chief Investment Officer di Navellier and Associates itu.
“Namun jika negosiasi berlarut selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan, kerusakan pada rantai pasok dan inflasi jangka pendek yang tak terhindarkan bisa memicu kekhawatiran stagflasi, yang berpotensi sangat merugikan pasar saham.”
Yang terbaru, Aktivitas Manufaktur di Amerika Serikat menyusut pada April, mencatat penurunan terdalam dalam lima bulan. Pesanan yang lemah dan dampak lanjutan dari kebijakan tarif menyebabkan kontraksi output paling tajam sejak 2020.
Data yang dirilis Kamis, 1 Mei, oleh Institute for Supply Management (ISM) memperlihatkan Aktivitas Manufaktur turun 0,3 poin menjadi 48,7. Indeks produksi bahkan merosot lebih dari 4 poin ke level 44.
Angka di bawah 50 menunjukkan sektor mengalami kontraksi. Sementara itu, harga bahan baku justru meningkat tipis.
Angka-angka ini mencerminkan sektor industri yang masih kesulitan untuk tumbuh di tengah ketidakpastian kebijakan dagang dan tekanan dari tarif AS yang menghambat rencana ekspansi.
Turun Tajam, Aktivitas Manufaktur RI Masuk Zona Kontraksi
Menyengat hingga ke dalam negeri, Aktivitas Manufaktur Indonesia melemah tajam pada April. Dari zona ekspansi, Aktivitas Manufaktur Tanah Air jatuh ke zona kontraksi.
Pada Jumat, S&P Global melaporkan aktivitas manufaktur yang dicerminkan dengan Purchasing Managers’ Index (PMI) di Indonesia sebesar 46,7 untuk periode April. Terpeleset amat signifikan ketimbang Maret yang mencapai 52,4.
PMI di bawah 50 mengindikasikan aktivitas yang berada di fase kontraksi. Aktivitas Manufaktur Ibu Pertiwi mengalami kontraksi untuk kali pertama dalam 5 bulan.
“Terjadi kontraksi di sektor manufaktur Indonesia pada April, dengan penurunan tajam baik di sisi produksi maupun volume pemesanan baru (New Orders). Merespons pelemahan ini, pelaku usaha mengurangi pembelian bahan baku dan tenaga kerja,” terang keterangan S&P Global.
Senada dengan regional, Tim Research Phillip Sekuritas dalam risetnya menyebut Aktivitas Manufaktur China melambat di awal Kuartal II–2025, tertekan oleh melemahnya permintaan ekspor.
Data resmi Manufacturing PMI China turun ke level 49,0 di bulan April dari level tertinggi dalam 12 bulan, yaitu 50,5 di bulan Maret, dan berada di bawah ekspektasi pasar sebesar 49,8. Ini menandakan kontraksi pertama sejak bulan Januari dengan laju penurunan tercepat sejak Desember 2023.
“Ini menjadi tanda bahwa kebijakan tarif dagang AS mulai berdampak pada industri manufaktur China, pada saat Pemerintah menunda peluncuran paket stimulus baru sembari menunggu saat yang tepat dalam apa yang diperkirakan akan menjadi perang dagang berkepanjangan,” mengutip riset harian Tim Research Phillip Sekuritas.
Analis Phintraco Sekuritas memaparkan, dari dalam negeri, pasar mengantisipasi data inflasi April 2025. Data ini dapat menjadi validasi isu perlambatan konsumsi domestik di April 2025 yang dibayangi beberapa faktor, seperti penurunan jumlah pemudik, penurunan pengeluaran masyarakat dampak penghematan anggaran dan penundaan pengeluaran akibat sentimen tarif dari AS.
“IHSG membentuk pola doji star untuk ketiga kalinya secara berturut-turut di Rabu. Bersamaan dengan pergerakan tersebut, terjadi penyempitan positive slope pada MACD,” jelas Phintraco.
Mencermati itu, Phintraco, IHSG masih rawan terhadap peluang pullback yang akan membentuk pola evening star sebagai indikasi minor bearish reversal. Waspadai indikasi tersebut, jika IHSG mengalami pullback signifikan mendekati level 6.700.
Phintraco memberikan rangkuman rekomendasi saham hari ini meliputi PGAS, MYOR, KLBF, MAPI dan BMRI.
Analis BRI Danareksa Sekuritas memaparkan, saat ini IHSG diprediksi bergerak terbatas dengan support di 6.700 dan resistance pada 6.800.
“IHSG telah rally di sepanjang bulan April ini dan telah reversal dalam trend jangka pendeknya,” mengutip paparan BRI Danareksa Sekuritas dalam risetnya pada Jumat (2/5/2025).
Bersamaan dengan risetnya, BRI Danareksa memberikan rekomendasi saham hari ini, TLKM, dan PGAS.
(fad/wep)



























