Logo Bloomberg Technoz

Tabriz bersaksi selama beberapa jam di hadapan Hakim Amit Mehta, yang mengawasi sidang selama tiga minggu terkait perubahan apa yang harus dilakukan Google terhadap praktik bisnisnya setelah ia menemukan tahun lalu bahwa Alphabet secara ilegal memonopoli pasar pencarian.

DoJ telah meminta agar Google dipaksa untuk menjual peramban Chrome-nya dan membagikan beberapa data yang dikumpulkannya untuk membuat hasil pencarian. DoJ juga telah meminta Mehta untuk melarang Google membayar untuk mesin pencari default.

Larangan yang diusulkan itu akan berlaku untuk produk AI Google, termasuk Gemini, yang menurut pemerintah dibantu oleh monopoli ilegal perusahaan dalam pencarian.

General manager Google Chrome Parisa Tabriz. (Bloomberg)

Sejarah Google Chrome

Google Chrome adalah sistem browser milik perusahaan, menjadi peramban terpopuler di dunia yang digunakan oleh sekitar 66% orang di seluruh dunia pada bulan Maret, menurut Statcounter. Chrome didasarkan pada Proyek Chromium yang bersifat open-source.

Chromium diciptakan oleh Google, tetapi menerima kontribusi teknis dari perusahaan lain dan mendapat dukungan dari Meta Platforms Inc, Microsoft Corp, dan Linux Foundation, antara lain. 

Sebelumnya pada hari Jumat, James Mickens, seorang ahli ilmu komputer untuk Departemen Kehakiman, mengatakan bahwa Google dapat dengan mudah mengalihkan kepemilikan Chrome ke perusahaan lain tanpa merusak fungsinya.

Divestasi yang Feasible

“Divestasi Chrome layak dilakukan dari segi teknis,” kata Mickens, seorang profesor ilmu komputer di Universitas Harvard.

“Akan sangat mungkin untuk mengalihkan kepemilikan dan tidak merusak terlalu banyak hal.”

Mickens sebelumnya menjabat sebagai ahli untuk pembuat Fortnite, Epic Games Inc. dalam kasus antimonopoli melawan Google atas ekosistem Android. Bahkan tanpa Chrome, Google masih memiliki insentif untuk terus menyumbangkan teknologi ke Chromium, proyek open-source yang mendasari perambannya dan beberapa pesaingnya, kata Mickens.

Sistem operasi smartphone Android Google, juga memanfaatkan beberapa aspek Chromium untuk memastikan bahwa halaman web dimuat dengan baik di ponsel, ujarnya.

“Google memiliki motivasi untuk memastikan source code terpelihara dengan baik,” kata Mickens tentang Chromium. 

Namun Tabriz meragukan ide tersebut. Google telah menyumbangkan lebih dari 90% kode untuk Chromium sejak tahun 2015, katanya.

“Google menginvestasikan ratusan juta dolar AS untuk Chromium,” katanya, dan memperkirakan 1.000 insinyur di dalam divisinya telah berkontribusi pada proyek tersebut. Perusahaan lain “tidak berkontribusi sekarang dengan cara yang berarti.”

Integrasi AI

Google telah bekerja untuk menambahkan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) ke browser Chrome, kata Tabriz. Pengguna sekarang dapat menambahkan ekstensi untuk ChatGPT dan Perplexity AI ke Chrome atau mengubah pengaturan browser agar lebih mudah mencari menggunakan model AI apa pun. Namun dia mengakui bahwa Gemini saat ini ditetapkan sebagai asisten AI default untuk digunakan dalam Chrome.

“Sebagian besar browser bereksperimen dengan AI dan meluncurkan fitur-fiturnya,” ujarnya, sambil mencatat bahwa Microsoft telah mengintegrasikan AI Copilot ke dalam mesin pencari Bing dan browser Edge.

Dalam dokumen internal, Google mengatakan bahwa mereka bermaksud untuk mengembangkan Chrome menjadi “agentic browser,” yang menggabungkan AI untuk mengotomatisasi tugas dan melakukan tindakan seperti mengisi formulir, melakukan penelitian, atau berbelanja.

“Kami membayangkan masa depan dengan banyak agen, di mana Chrome terintegrasi secara mendalam dengan Gemini sebagai agen utama dan kami akan memprioritaskan dan memungkinkan pengguna untuk terlibat dengan beberapa agen 3P di web baik di lingkungan konsumen maupun perusahaan,” tulis Tabriz dalam email tahun 2024.

(bbn)

No more pages