Logo Bloomberg Technoz

Sri Mulyani mengatakan karakter Presiden AS Donald Trump biasanya memberikan keuntungan kepada negara awal yang melakukan negosiasi. Informasi tersebut disampaikan oleh Menteri Keuangan Amerika Serikat atau Secretary of the Treasury Scott Bessent dalam pertemuan dengan Sri Mulyani.

Namun, Sri Mulyani menggarisbawahi keputusan pada akhirnya akan berada di Trump. Sehingga, seluruh jalur yang dilakukan untuk berkomunikasi dan menyampaikan berbagai proposal agar saling menguntungkan Indonesia dan AS menjadi penting.

"Itu yang tadi disampaikan Bessent, tetapi keputusan pada akhirnya akan ada di Presiden Donald Trump," ujar Sri Mulyani.

Sri Mulyani mengamini negosiasi masih berjalan antara Indonesia dan AS. Namun, selain substansi, beberapa materi Indonesia disambut positif oleh AS melalui beberapa pertemuan.

Selain itu, melihat pengalaman AS melakukan negosiasi terutama dengan Meksiko hingga Kanada, pembahasan bukan hanya mencakup soal tarif, tetapi juga hambatan non-tarif seperti regulasi dan prosedur yang dianggap menghalangi atau tidak menguntungkan perusahaan AS.

Maka, pemerintah akan mengkaji apakah penghapusan dan revisi dari regulasi menguntungkan pelaku usaha di Indonesia. Sehingga, deregulasi tidak ditujukan hanya untuk AS, tetapi juga untuk Indonesia.

"Nanti tim deregulasi dan substansi akan terus membahas bersama Pak Menko [Airlangga], sebagian ada dalam kewenangan Kemenkeu. Sehingga nanti kita akan terus sama-sama perbaiki dan membenahi regulasi tersebut," ujarnya.

Dampak tarif AS terhadap perekonomian ASEAN-5 akan cukup signifikan (Bloomberg Economics)

Kepentingan Nasional

Airlangga mengatakan tawaran Indonesia kepada AS untuk mewujudkan kerja sama perdagangan yang adil sepenuhnya mengacu kepada kepentingan nasional dan dirancang untuk memberikan setidaknya lima manfaat.

Pertama, memenuhi kebutuhan dan menjaga ketahanan energi nasional. Kedua, memperjuangkan akses pasar Indonesia ke AS, khususnya dengan kebijakan tarif yang kompetitif bagi produk ekspor Indonesia.

Ketiga, deregulasi untuk meningkatkan kemudahan berusaha, perdagangan, dan investasi yang akan menciptakan lapangan pekerjaan. Keempat, memperoleh nilai tambah dengan kerjasama rantai pasok (supply chain) industri strategis dan critical mineral. Kelima, akses ilmu pengetahuan dan teknologi dalam berbagai bidang, antara lain kesehatan, pertanian, energi terbarukan (renewable energy).

Tantangan Indonesia dalam Negosiasi

Airlangga mengatakan Indonesia menghadapi tantangan dalam negosiasi untuk mendapatkan perhatian pertama dari AS. Terlebih, Indonesia merupakan salah satu dari 70 lebih negara yang melakukan negosiasi.

"Tantangan yang dihadapi karena ini adalah Indonesia satu dari lebih 70 negara sehingga tentu bagi Indonesia bagaimana kita menjadi perhatian pertama," ujar Airlangga.

Airlangga mengatakan Indonesia sudah berhasil mencapai kesepakatan dengan target menyelesaikan kerangka perjanjian dalam 60 hari.

(dov/roy)

No more pages