Logo Bloomberg Technoz

Meskipun hengkang dari Proyek Titan, LGES memastikan operasi mereka yang ada di Indonesia akan terus berlanjut tanpa terpengaruh.

Termasuk di dalamnya soal proyek pabrik baterai Hyundai LG Indonesia (HLI) Green Power, usaha patungan LGES dengan Hyundai Motor Group yang didirikan pada 2022, atau yang disebut Proyek Omega. LGES pun telah mengonfirmasi akan mempertahankan jadwal produksinya.

Namun demikian, Oktavianus menilai hilangnya komitmen LGES di Proyek Titan guna meningkatkan fasilitas pembangunan untuk hilirisasi nikel akan menghambat target ekosistem EV di Indonesia.

Lebih Diminati dari Hidrogen

Di sisi lain, dia berpandangan sel baterai EV dari nikel cenderung masih lebih diminati oleh produsen jika dibandingkan dengan energi hidrogen yang memiliki biaya produksi lebih tinggi dan memerlukan komponen khusus untuk teknologi sel bahan bakar hidrogen.

⁠Selain itu, dari biaya baterai ion-litium mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir, sehingga membuat permintaan dan harga EV menjadi lebih kompetitif.

Rata-rata biaya produksi baterai nikel. (Dok: Bloomberg)

Penawaran ke AS

Pada kesempatan terpisah medio pekan lalu, Direktur Portofolio dan Pengembangan Usaha PT Mineral Industri Indonesia (MIND ID) Dilo Seno Widagdo mensinyalir holding BUMN pertambangan berencana menawarkan proyek yang ditinggal LGES itu untuk investor Amerika Serikat (AS).

Penawaran proyek itu belakangan mendapat momentum selepas upaya pemerintah Indonesia untuk menyeimbangkan neraca perdagangan dengan Negeri Paman Sam.

“Nah ini kita akan tawarin, kemarin juga salah satu yang jadi bargaining position-nya kita [perundingan tarif],” kata Dilo ditemui medio pekan lalu, dalam wawancara dengan beberapa media pada Kamis (17/4/2025).

Di sisi lain, Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) memastikan telah mengamankan calon investor pengganti LGES di Proyek Titan untuk pengembangan ekosistem EV.

Hal itu dikonfirmasi oleh Deputi Bidang Promosi Penanaman Modal Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM.

“Potensi calon penggantinya ada,” kata Nurul saat dihubungi, Selasa (22/4/2025). 

Hanya saja, Nurul enggan berkomentar banyak ihwal calon investor di Proyek Titan yang belakangan tengah didekati otoritas investasi saat ini.

Nurul beralasan informasi pasti ihwal pengganti LG bakal disampaikan lebih lanjut oleh Menteri Investasi/Kepala BKPM Rosan Perkasa Roeslani.

Perkembangan terakhir, Presiden Prabowo Subianto juga ikut menanggapi keputusan LGES yang belakangan mundur dari komitmen investasi hilirisasi bijih nikel menjadi baterai listrik di Indonesia.

Prabowo berkeyakinan pemerintah bakal segera mendapat pengganti LGES pada proyek Titan tersebut, berkongsi dengan IBC.

“Ya pasti ada tunggu saja,” kata Prabowo kepada awak media, di Istana Merdeka, Selasa (22/4/2025).

Prabowo beralasan Indonesia menjadi negara strategis sebagai tujuan investasi penghiliran mineral logam, khususnya bijih nikel sebagai bahan baku baterai listrik.

“Indonesia besar, Indonesia kuat, Indonesia cerah,” kata Prabowo.

LG Energy Solution Ltd./Bloomberg-Jean Chung

Hengkangnya LGES dari proyek yang dikenal dengan kode Proyek Titan itu diumumkan perusahaan asal Korea Selatan tersebut pada Jumat (18/4/2025), mengutip alasan “perubahan kondisi pasar” sebagai faktor utama di balik keputusan mereka.

“Setelah mempertimbangkan dengan saksama lanskap pasar EV global yang terus berkembang, kami telah memutuskan bahwa proyek khusus ini tidak lagi sejalan dengan prioritas strategis kami,” ujar juru bicara LGES melalui pernyataan resmi.

Untuk diketahui, Proyek Titan merupakan salah satu dari lima megaproyek baterai EV yang ada di Indonesia, selain Dragon, Omega, BESS, dan Volt.

Proyek Titan digadang-gadang bakal menjadi fasilitas produksi baterai EV terintegrasi yang akan menjadi jembatan Indonesia sebagai pemain besar dalam rantai pasok baterai global.

Proyek ini pada mulanya dirancang untuk melibatkan konsorsium Korea Selatan yang terdiri dari LGES, LG Chem, LX International, dan mitra lainnya dengan komitmen investasi sekitar 11 triliun won atau setara US$7,7 miliar.

Namun, dalam perkembangannya, Proyek Titan kerap diterpa isu negosiasi yang alot dengan pihak LGES.

(mfd/wdh)

No more pages