Logo Bloomberg Technoz

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan Indonesia dengan AS sudah mencatatkan surplus sejak 2015 atau hampir satu dekade. Adapun, surplus neraca perdagangan paling tinggi dengan AS terjadi pada 2022 yakni sekitar US$16,57 miliar.

Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti melaporkan nilai surplus perdagangan antara Indonesia dan AS mengalami fluktuasi pada setiap tahunnya. Hal yang terang, tren peningkatan neraca perdagangan Indonesia dengan AS didorong oleh tren peningkatan neraca nonmigas.

"Sejak 2015 hingga 2024, total nilai perdagangan Indonesia dengan AS secara umum dalam tren yang meningkat. Kalau dilihat antara migas dan nonmigas, tren peningkatan neraca perdagangan Indonesia dan AS didorong tren peningkatan neraca nonmigas, sementara perdagangan migas, Indonesia defisit," ujar Amalia dalam konferensi pers, Senin (21/4/2025).

Surplus neraca perdagangan Indonesia dengan AS:

  1. US$10,04 miliar pada 2020
  2. US$14,54 miliar pada 2021
  3. US$16,57 miliar pada 2022
  4. US$11,97 miliar pada 2023
  5. US$14,34 miliar pada 2024, dan
  6. US$4,32 miliar pada Januari-Maret 2025.

Amalia juga menyebut bahwa AS mendominasi pangsa ekspor Indonesia untuk produk pakaian dan alas kaki pada Januari-Maret 2025. Dari seluruh ekspor pakaian dan aksesorinya, pangsa ekspor ke AS adalah 63,4% terhadap total ekspor komoditas tersebut pada Januari-Maret 2025. Sementara, sisanya adalah pangsa ekspor ke Jepang 5,41%; Korea Selatan adalah 5,14%; dan lainnya 26,05%.

Untuk pakaian dan aksesorinya yang bukan rajutan, pangsa pasar ekspor Indonesia ke AS adalah 42,96% terhadap total ekspor komoditas tersebut pada Januari-Maret 2025. Selain AS, pangsa ekspor Jepang adalah 10,39%; Korea Selatan 7%; dan lainnya 39,65%.

Terakhir, alas kaki, ekspor ke AS memberikan pangsa 34,16% terhadap total ekspor alas kaki pada Januari-Maret 2025. Selain AS, pangsa ekspor Belanda adalah 8,4%; Belgia 7,14%; Jepang 5,9%; China 5,61%; dan lainnya 38,78%.

(wep)

No more pages