Logo Bloomberg Technoz

Persaingan ini kini makin mendesak setelah Beijing membatasi ekspor sejumlah mineral kritis, khususnya logam tanah jarang yang digunakan di sektor pertahanan dan energi, sebagai respons terhadap memanasnya perang dagang yang dipicu Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.

China melarang ekspor antimon, galium, dan germanium ke AS sejak Desember 2024 dengan alasan keamanan nasional.

Trump, yang berambisi mengurangi ketergantungan AS terhadap impor, telah menandatangani perintah eksekutif pada pertengahan April 2025 untuk menyelidiki apakah impor mineral kritis mengancam keamanan nasional AS melalui mekanisme Section 232.

Apa Itu Mineral Kritis?

Mineral kritis adalah elemen logam dan non-logam yang dinilai vital untuk kemampuan industri dan militer suatu negara. AS dan Uni Eropa mengklasifikasikan sekitar 50 elemen, termasuk litium, grafit, kobalt, mangan, dan logam tanah jarang, sebagai mineral kritis. 

Elemen-elemen ini memiliki sifat kimia unik yang menjadikannya penting dalam pembuatan produk elektrik, elektronik, magnetik, dan optik.

Pada 2023, Uni Eropa memasukkan tembaga dan nikel ke daftar bahan mentah kritis untuk pertama kalinya, meskipun sumbernya cukup melimpah.

Sebagian besar mineral ini berperan dalam membangun infrastruktur rendah karbon—yang didukung dana ratusan miliar dolar AS dalam bentuk subsidi dan insentif pajak. Beberapa juga digunakan dalam produksi semikonduktor untuk komunikasi sipil dan militer.

Mengapa Pasokan Mineral Kritis Menjadi Tantangan?

Meskipun mineral kritis banyak ditemukan di berbagai belahan dunia, proses ekstraksi dan pemurniannya memerlukan teknologi tinggi, energi besar, dan bisa mencemari lingkungan. Di sinilah dominasi China terasa—negara itu menguasai rantai nilai dari hulu ke hilir untuk sebagian besar mineral kritis.

China menguasai rantai nilai dari hulu ke hilir untuk sebagian besar mineral kritis.

Bahkan untuk logam yang relatif lebih umum seperti tembaga, lonjakan permintaan global membuat ketersediaannya tetap menjadi isu. Pada 2023, Uni Eropa memasukkan tembaga dan nikel ke daftar bahan mentah kritis untuk pertama kalinya, meskipun sumbernya cukup melimpah.

Apa Risiko Ketergantungan pada China bagi Dunia Barat? 

Ketergantungan pada satu negara dalam pasokan bahan baku strategis menimbulkan risiko besar ketika terjadi gangguan seperti pemadaman listrik, wabah penyakit, atau gejolak sosial.

Hubungan China–AS yang makin memburuk di bawah kepemimpinan Trump memperparah ketidakpastian ini, terutama setelah AS mengenakan tarif tinggi dan pembatasan ekspor pada China.

Sebagai balasan, China melarang ekspor antimon, galium, dan germanium ke AS sejak Desember dengan alasan keamanan nasional. Langkah ini meningkatkan biaya produksi untuk perusahaan elektronik dan optik di AS. Beijing juga memperketat penjualan grafit—komponen penting dalam baterai EV.

Tak berhenti di sana, China kembali menambah kontrol ekspor atas tungsten, bismut, dan logam khusus lainnya di awal Februari, memicu lonjakan harga global. Pada April, tujuh logam tanah jarang baru dimasukkan ke dalam daftar ekspor terbatas.

Bagaimana China Bisa Begitu Dominan?

Sejak 1992, pemimpin China saat itu, Deng Xiaoping, sudah menyatakan bahwa “Timur Tengah punya minyak, China punya logam tanah jarang.” 

Ketika permintaan komoditas meningkat tajam seiring pertumbuhan ekonomi, China berinvestasi besar-besaran pada aset tambang di luar negeri.

China mempimpin dalam produksi 20 mineral kritis secara global, baik dari sisi tambang maupun pemurnian.

Negara itu kini memimpin dalam produksi 20 mineral kritis secara global, baik dari sisi tambang maupun pemurnian. Untuk unsur tanah jarang seperti disprosium—digunakan dalam lampu dan laser— China menyumbang 84% produksi tambang global dan 100% produksi rafinasi, menurut analisis Uni Eropa.

China juga merupakan produsen utama kobalt dan nikel dalam bentuk rafinasi. Perusahaan-perusahaan China aktif berinvestasi di tambang kobalt dan nikel di Republik Demokratik Kongo dan Indonesia.

Apa Respons Negara-Negara Saingan?

Undang-undang Inflation Reduction Act (IRA) yang diteken Presiden Joe Biden pada 2022 mendorong investasi di energi terbarukan dan kendaraan listrik (EV) untuk mengurangi ketergantungan pada pemasok luar negeri. 

Namun, Trump sebagai penerusnya justru mengkritik kebijakan ini dan memerintahkan untuk menghentikan penyaluran dana IRA. Meski begitu, pembatalan total terhadap undang-undang ini dianggap tidak realistis karena banyak negara bagian sudah menikmati manfaat ekonominya.

Maret lalu, Trump meningkatkan langkah proteksionis dengan menggunakan kekuatan darurat untuk mendorong produksi dan pemrosesan mineral kritis dalam negeri. 

Dia kemudian memerintahkan penyelidikan rantai pasok dan mempertimbangkan penerapan tarif atas impor. Gedung Putih menyebut AS masih “100% bergantung pada impor” untuk sedikitnya 15 mineral kritis, dan 70% impor logam tanah jarang berasal dari China. 

Uni Eropa Juga Bertindak

Uni Eropa mengesahkan Critical Raw Materials Act untuk mempercepat pembiayaan dan perizinan proyek tambang serta rafinasi di dalam negeri, sambil menjalin aliansi dagang untuk mengurangi ketergantungan pada China. 

Lewat skema Clean Industrial Deal, perusahaan Eropa juga bisa mengonsolidasikan permintaan terhadap bahan mentah kritis.Negara-negara Barat kini agresif menjalin kerja sama pasokan dan investasi dengan negara-negara produsen mineral kritis. 

Namun, keunggulan China yang sudah lama bercokol memberi mereka posisi yang lebih kuat. Lebih dari setengah tambang kobalt di Republik Demokratik Kongo, misalnya, dikuasai oleh perusahaan-perusahaan China. 

Selain itu, China juga terus memperkuat hubungan dengan negara-negara Afrika yang diprediksi akan menjadi produsen utama kobalt dunia dalam dekade ini.

(bbn)

No more pages