"Saya melihat peluang itu dan itulah sebabnya saya berubah," ujarnya. "Ini lebih terukur dan membantu lebih banyak orang.”
Dengan semangat membangun, Gibran mengikuti berbagai kompetisi startup dan mulai belajar dunia modal ventura: bagaimana membuat pitch deck, menyusun model bisnis, dan menarik perhatian investor. Tahun 2015, Aqua-Spark, perusahaan investasi asal Belanda yang fokus pada akuakultur berkelanjutan, memberikan pendanaan awal sebesar US$750.000.
Namun, Gibran tetap menemui tantangan besar. Harga mesin pakan buatannya punya harga US$400-US$600 per unit, terlalu mahal untuk petani kecil di Indonesia. Gibran lantas mengubah model bisnisnya menjadi sistem sewa, agar lebih terjangkau.
Titik Balik dan Godaan Angka
Di balik semangat dan inovasi, tekanan keuangan mulai mengintai. Pada akhir 2017, eFishery hanya memiliki dana sebesar US$8.142 (sekitar Rp109 juta-kurs pada saat itu) di rekeningnya. Aqua-Spark kembali menawarkan investasi US$1,5 juta dalam tiga tahap, namun tahap terakhir hanya akan diberikan jika ada investor lain yang ikut bergabung.
Namun, tidak satu pun investor baru yang bersedia. Dalam kondisi terdesak, Gibran mulai mempertimbangkan langkah-langkah ekstrem. Ia berbicara dengan pendiri startup lain dan mendengar bahwa beberapa dari mereka melakukan 'growth hacking' dan manipulasi angka untuk meyakinkan investor.
"Saya tahu itu salah. Tapi ketika semua orang melakukannya dan mereka masih baik-baik saja dan tidak pernah ketahuan, Anda mempertanyakan apakah itu benar-benar salah," ujarnya.
Gibran mengakui bahwa saat itu ia menghadapi dilema dari sisi moral. Bersikap jujur dan menghadapi kebangkrutan eFishery, atau memoles laporan dan menyelamatkan perusahaan, sekaligus karyawan dan petani yang bergantung kepada dia.
"Kompas moral saya cukup matematis — jika dampak yang bisa saya ciptakan lebih besar dari risiko yang mungkin terjadi, maka saya pikir itu masih positif," katanya, mengacu pada eksperimen etis di mana satu nyawa dikorbankan demi menyelamatkan lima lainnya.
Pasalnya, ambisi Gibran tidak main-main. Ia sempat mengelola lebih dari 70 kolam ikan, menjual ikan matang, dan bercita-cita membangun jaringan warung makan laut. "Cita-cita saya saat lulus tahun 2012 adalah punya seribu kolam. Saya ingin jadi Raja Lele Indonesia," tuturnya.
Namun akhirnya, ketegangan antara visi sosial, tekanan pertumbuhan, dan kebutuhan dana membawa Gibran ke jalur berbeda. Laporan pendapatan yang digelembungkan, penciptaan catatan palsu untuk menunjukkan transaksi, dan klaim yang tidak sesuai kenyataan menjadi bagian dari praktik bisnis eFishery selama beberapa tahun, hingga akhirnya terungkap ke publik.
Skema Tipu Daya Bernilai Ratusan Juta Dolar AS
Laporan internal terbaru menunjukkan pada 2024, eFishery mengklaim pendapatan sebesar US$752 juta dalam sembilan bulan pertama. Padahal angka riilnya hanya US$157 juta.
Tipuan ini membuat beberapa investor besar seperti SoftBank, Temasek, Sequoia India (Peak XV), dan 42XFund dari Abu Dhabi akhirnya teperdaya dan menyuntikkan dana hingga total US$300 juta ke eFishery.
Praktik manipulasi tersebut mencakup transaksi fiktif, pemindahan bisnis petani ke platform eFishery dengan imbalan komisi, serta jaringan perusahaan cangkang dan akun-akun palsu. Gibran bahkan menciptakan sistem kredit untuk petani (Kabayan) yang sebenarnya menempatkan seluruh risiko berada di perusahaan.
Hingga pada akhir 2024, laporan whistleblower memicu penyelidikan internal dan berujung pada pencopotan Gibran dari jabatannya. Dewan direksi kemudian mempekerjakan FTI Consulting untuk menilai kelayakan perusahaan.
Hasilnya menyimpulkan bahwa "eFishery tidak layak secara komersial dalam bentuknya saat ini."
Upaya untuk menyelamatkan perusahaan melalui Proyek MEGA (Make eFishery Great Again) gagal membuahkan hasil.
Kini, investor tengah berupaya memulihkan kerugian, misalnya, 42XFund yang menyuntikkan dana US$100 juta diperkirakan hanya akan mendapatkan kembali sekitar US$8,3 juta.
-Dengan asistensi Faris Mokhtar, Olivia Poh, dan David Ramli dari Bloomberg News.
(prc/wep)































