Logo Bloomberg Technoz

Ekonom: Penundaan Tarif Tunjukkan Trump Tak Sekuat yang Diduga

Azura Yumna Ramadani Purnama
11 April 2025 08:50

Presiden AS Donald Trump saat pengumuman tarif di Rose Garden Gedung Putih di Washington, DC, AS,Rabu (2/4/2025). (Kent Nishimura/Bloomberg)
Presiden AS Donald Trump saat pengumuman tarif di Rose Garden Gedung Putih di Washington, DC, AS,Rabu (2/4/2025). (Kent Nishimura/Bloomberg)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Ekonom menilai aksi Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menunda penerapan kebijakan tarif resiprokal baru untuk sejumlah negara, termasuk Indonesia, menunjukkan bahwa dia tak sekuat dan seberani yang diduga oleh banyak pihak. 

Wijayanto Samirin, Ekonom Universitas Paramadina berpendapat, penundaan kebijakan selama 90 hari tersebut akan berdampak positif terhadap Indonesia. Pasalnya, hal ini membuat pemerintah memiliki lebih banyak waktu untuk menyusun strategi mengantisipasi dampak penerapan tarif.

"Hal ini memberikan pesan bahwa Trump tidak sekuat dan tidak seberani yang kita kira. Maka itu, kita perlu lebih yakin, tetapi segala langkah harus terukur," ujar Wijayanto kepada Bloomberg Technoz, dikutip Jumat (11/4/2025).


Wijayanto menganalisis bahwa terdapat tiga faktor utama yang menyebabkan Trump memutuskan untuk menunda penerapan tarif dengan persentase menjulang tersebut. Pertama, Trump mendapat protes dari pengusaha yang menjadi donor pendanaan utamanya, di mana nilai saham perusahaan mereka merosot drastis.

Kedua, kebijakan tarif meningkatkan risiko global, sehingga imbal hasil obligasi pemerintah AS atau yield US Treasury melejit. Padahal tahun ini mereka harus melakukan pembiayaan kembali atau refinancing utang senilai US$9,2 triliun.