Logo Bloomberg Technoz

Nyaris keseluruhan saham membukukan pelemahan. Paling dalam adalah saham-saham barang baku, saham konsumen non primer, dan saham konsumen primer dengan runtuh mencapai 2,96%, 2,86%, dan 2,16%. Menyusul saham energi dan saham properti yang masing-masing melemah 1,49% dan 1,40%.

Tidak hanya IHSG, nyaris keseluruhan indeks saham utama Asia juga terbenam di zona merah. PSEI (Filipina) jadi yang paling parah dengan ambles 2,42%

Bursa Saham Asia lain juga kompak menapaki jalur merah, menyusul Straits Time (Singapura), TW Weighted Index (Taiwan), KOSPI (Korea Selatan), TOPIX (Jepang), KLCI (Malaysia), NIKKEI 225 (Tokyo), Hang Seng (Hong Kong), dan SENSEX (India) yang terpangkas amat signifikan dengan masing-masing terpangkas 1,88%, 1,73%, 1,28%, 1,11%, 1,06%, 0,64%, 0,05%, dan 0,01%.

Indeks KOSPI Korea Ambles di Selasa 11 Maret 2025 (Bloomberg)

Sementara itu, Shanghai Composite (China), Shenzhen Comp (China), dan CSI 300 (China) berhasil rebound dan menguat dengan kenaikan 0,41%, 0,34%, dan 0,31%.

IHSG dan Bursa Saham Asia tersengat momentum pelemahan di Bursa Saham Amerika Serikat (AS). Dini hari tadi waktu Indonesia, tiga indeks utama di Wall Street kompak ditutup melemah. Nasdaq Composite, S&P 500, dan Dow Jones Industrial Average masing-masing ambles mencapai 4%, 2,7%, dan 2%.

Sentimen yang mewarnai laju Bursa Asia hari ini datang dari global, perang dagang tarif Trump yang sedang berlangsung, diyakini bisa memantik inflasi lagi dan mengacaukan rantai pasok perdagangan global.

Alhasil, arus jual saham membesar ketika Trump menunda pemberlakuan tarif pada Meksiko dan Kanada. Langkah Pemerintah AS menahan anggaran Federal dan memecat puluhan ribu PNS juga berdampak buruk.

“Risiko resesi jelas lebih tinggi karena serangkaian kebijakan Trump, yakni tarif berlaku lebih dulu, baru nanti pemotongan pajak,” kata Tracy Chen, Portfolio Manager di Global Brandywine.

Seperti yang diwartakan Bloomberg News, sentimen pasar menjadi suram karena para pemilik modal di pasar global gelisah akan gangguan pertumbuhan Ekonomi AS, menyusul kebijakan perang tarif yang diusung oleh Presiden AS Donald Trump yang mengancam geopolitik global.

Investor mulai menarik diri dari hampir semua aset berisiko. Kegelisahan Ekonomi AS menyelimuti Wall Street, memicu aksi jual besar-besaran. IHSG dan Bursa Asia juga sama, mengekor apa yang terjadi di Wall Street pada Senin akibat menguatnya kekhawatiran akan terjadinya resesi di AS.

“Akan ada masa di mana kepanikan melanda pasar,” ujar Amy Wu Silverman, Analis Ekuitas Derivatif di RBC Capital Markets kepada Bloomberg.

“Kita belum sampai ke tahap itu, tetapi jika volatilitas terus meningkat, kepanikan bisa terjadi sewaktu-waktu.”

Menghadapi ketidakpastian ini, investor mulai mengalihkan dana mereka ke aset yang lebih aman.

Spekulasi meluas usai Presiden AS Donald Trump bersedia menoleransi perlambatan ekonomi dan gejolak pasar demi mencapai tujuan jangka panjangnya terkait tarif perdagangan dan penyederhanaan pemerintahan.

Ketika ditanya dalam wawancara dengan Fox News Sunday Morning Futures apakah ia memperkirakan resesi, Trump menjawab, “Saya benci membuat prediksi seperti itu. Tapi ini adalah masa transisi karena yang kami lakukan sangat besar.”

(fad/aji)

No more pages